Ramadhan Bareng Aisyah

Bismillahirrahmanirrahiim,

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh 🙂

Sudah hampir setahun gak nulis, banyak banget kejadian yang gak direkam di blog ini. Semoga bisa nyicil nulis deh kalo udah masuk kantor (loh).

Alhamdulillahirabbil’alamiin, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Atas nikmat-Nya dan karunia-Nya telah lahir puteri pertama kami, Aisyah Zaleeka Pratama, pada tangal 21 April 2016. Gak berasa banget Aisyah udah 2 bulan sekarang dan sebentar lagi berarti aku harus masuk kantor karena maternity leave berakhir tanggal 10 Juli 2016 :(((. Anw, bahasan tentang kelahiran Aisyah dan segala drama nya belum mau aku bahas sekarang ya karena momennya sekarang ramadhan, jadi pengen cerita tentang Ramadhan Bareng Aisyah sesuai judul,hee.

Alhamdulillah Aisyah minum ASI nya kuat, terakhir nimbang beratnya 5.5 kg per tanggal 25 Juni 2016 (pas lahir beratnya 3.37). Nah, karena aku pengen banget aisyah dapet ASIX alias ASI Eksklusif, jadilah aku gak puasa selama ramadhan ini. Sebenernya tergantung si ibu nya ya, apakah kuat atau enggak. Tapi kalo yang aku rasain sekarang, bawaan aku tuh hauus mulu. Minumnya jadi banyak, udah ky onta ya :p. jadi daripada-daripada, jadilah aku gak puasa takut ASInya seret. Nah sebenernya sudah ada keringanan dari Allah untuk ibu hamil dan menyusui tentang perkara ini. Apakah harus mengqada puasa saja? Atau fidyah saja? Atau menggabungkan antara qadha dan fidyah? Bisa dilihat di video cuplikan tanya jawab Ust Khalid Basalamah ini: https://www.youtube.com/watch?v=rXP0CrwI8aY (durasi video 1 menit 4 detik).

Jadi sebenernya yang afdhol itu gabungan antara mengqadha puasa dan bayar fidyah. Kemudian muncul pertanyaan, gimana kalo tahun depannya hamil lagi? Gak bisa puasa lagi dong? Terus gimana qadha-nya? Dari keterangan video tsb, kita bisa membayar fidyahnya saja. Banyak artikel yang ngebahas tentang perkara ini, walaupun terdapat khilafiyah pendapat para ulama. Namun yang jelas, untuk para bumil dan busui, kalo dirasa gak kuat untuk berpuasa, gak usah puasa ya. Karena sudah jelas udzur syar’i nya. InsyaAllah tentang pahala di bulan ramadhan nya bisa dapat dari lainnya. Mengurus anak juga ladang pahala loh. Oia jangan lupa siapin sahur dan berbuka juga buat suami, itu juga ladang pahala (walaupun kalo sahur masih suka tidur karena begadang, maaf ya bang :D)

Aisyah sebelum vaksin DPT @taman KMC
Aisyah sebelum vaksin DPT @taman KMC
Advertisements

26th of Arian Dito Pratama

adp

Selamat ulang tahun untuk suamiku tercinta yang ke dua puluh enam tahun. Look how great you are since I knew you from your twenty two. Menurut pengakuan kamu, pertama kali ngeliat aku saat di gedung student center pas acara somewhat paper. Aku, ngeliat kamu kayaknya pas di kelas drilling. No feeling like butterfly on my stomach effect. Since you are not great for making someone falling in love in your first impression :p

Semua berjalan begitu cepat ya. Kamu sukses dengan si biru walaupun banyak naik turunnya. Kamu punya endurance yang sangat tinggi dibanding aku. Kamu bisa cepat adaptasi di lingkungan yang bahkan gak nyaman untuk ditinggali. Sementara orang lain mengeluh, kamu selalu bisa mencari hikmah di balik semuanya. Dan yang paling aku gak ngerti lagi dari sosok seorang Arian Dito Pratama adalah disaat kamu bisa banget ya bikin sesuatu yang orang anggap remeh menjadi sesuatu yang besar. Contohnya adalah saat aku ngerjain final well report, betapa aku males dan ngeluh terus – terusan dan berkali – kali bilang kalo pekerjaan ini remahan rengginang banget. Tapi kalo kamu, kamu bisa seenjoy itu ngerjain FWR dan malemnya kamu bisa cerita ke aku gimana sumur itu, ada masalah apa aja, dan sebagainya. Ini wow banget menurutku.

Yang paling aku kagumi dari kamu (selain ijab qabul yang kamu bacain dalam satu nafas. This is my favorite!) adalah disaat kamu bisa mengejar dan mendapatkan mimpi kamu but you’re feet still stand on the ground instead of flying higher with your wings then show off. Ada kalanya kamu down, ada kalanya kamu kecewa, tapi kamu cepet bangkit untuk benahin semuanya. Dan, terima kasih terbesarku adalah, untuk percaya dan stay dengan aku when you get what you always dream of, TU Clausthal! You just threw away your biggest wildest dream for a young lady who knows nothing about marriage. I don’t know how to cook, I don’t know how to do house cleaning – well maybe I know how but too lazy to do that, hehhee.

I hope you always be patient as you always do even for worst condition. I hope you’ll be a good Padre for our little baby H or A depends on the gender. I hope you’ll always be a good Imam for me and our little family. Please force yourself to do jamaah prayer in Masjid since we know the advantages for doing that. And please force me to do all the good things Our Rasulullah teach for the muslimah how to be a good wife and Madre. I know you’d be annoyed when I write it on English and call Padre/Madre. You’re getting used to it, yo honey :p

img1446708336200

Catatan Perjalanan Dua Insan Part V – Finale

Milan, Italy 30 Desember 2014

Di kereta menuju Milan gak banyak yang bisa aku ceritain, karena kami tertidur pulas sepanjang perjalanan. Semua berlalu begitu cepat dan tiba – tiba kami Alhamdulillah dengan selamat sampai di Milan. Dilanjutkan dengan metro, sampailah kami di Crocetta dan berjalan sedikit mengarah ke apartemen abang. Sesampainya kami di apartemen malam itu, aku langsung buru – buru masak indomie rebus dan goreng. Wah enak banget rasanya. Udah kebayang rasanya sejak di Malaga.

Keesokan harinya kami hanya menghabiskan waktu di apartemen saja. Stand by Me dan Blended menjadi film yang kami pilih untuk ditonton. Hal – hal kecil yang seperti ini yang aku rindukan dari kebersamaan kami. Sambil menikmati nasi goreng pete, aku pun mulai terisak saat melihat Doraemon meninggalkan Nobita. Dilanjutkan dengan Blended, film nya Adam Sandler dan Drew Barrymore ini bener – bener bikin kami puas ketawa. Walaupun sebenernya aku sudah menonton film ini di perjalanan menuju Milan. Malamnya kami makan malam bersama Mas Rizki dan Mas Ludi, setelah siangnya kami berbelanja kebutuhan dapur di swalayan terdekat. Hari ini terasa sangat sederhana. Tapi bagiku sangat bermakna. Menghabiskan waktu seharian bersama abang di apartemen, berbelanja kebutuhan dapur, gak perlu repot mencari tempat solat, menghabiskan malam bersama orang terdekat.

“apa kita gak usah ke Paris aja ya?”

Abang memalingkan mukanya ke arahku dan menunjukkan wajah yang sangat kebingungan.

“aku pengen leye-leye aja sama kamu….”

“tiket sudah dibeli.”

“oke.” buru – buru packing.

Paris, France 31 Desember 2014

Dini hari kami mulai melakukan perjalanan menuju Malpensa. Perbekalan dalam perjalanan kami kali ini tidak terlalu banyak dibandingkan dengan perjalanan awal. Tidak ada kurma, tidak ada carrier bag, yang ada hanya satu koper kabin, satu tas punggung, dan nasi goreng pete!

Nasi Goreng Pete
Nasi Goreng Pete

Sesampainya di Paris, aku sangat amazed dengan kotanya. Akhirnya aku berada di kota yang selalu dibicarakan semua orang dan yang selalu menjadi impian banyak pasangan. Gak pernah nyangka bisa kesini karena ini salah satu mimpi terliar dari kami.

Setelah rampung dengan urusan imigrasi, kami memilih untuk menyantap nasi goreng pete di bandara. Ini juga ide terliar dari kami. Kami memilih tempat duduk yang agak jauh dari keramaian agar tidak disangka teroris karena mengeluarkan bau yang tidak sedap. Tiap kali polisi bandara lewat, kami menutup bekal makanan dan pura – pura berbincang satu sama lain.

Selama menaiki kereta menuju pusat kota, kami melihat indahnya pinggiran kota Paris dengan suasana pedesaan dan rumah – rumah yang nyaman. Suasana musim dingin yang mendung turut menambah nyamannya kota ini. Entah di stasiun mana, tiba – tiba ada pengamen masuk. Baru kali ini aku melihat ada pengamen yang masuk public transportation.

My Guide, for Trip and Life Journey
My Guide, for Trip and Life Journey
Face Controlless
Face Controlless

Ga perlu lama untuk menemukan hotel kami yang memang dekat dengan stasiun metro. Malamnya, kami berjalan untuk melihat menara Eiffel. Sebelum keluar hotel, kami diwajibkan menitipkan kunci kamar ke resepsionis. Ternyata resepsionis nya bapak asal Turki.

Lagi, gak nyangka deh bisa lihat menara ini dari dekat. Karena ini malam tahun baru, banyak banget orang dari segala penjuru hadir disini. Bener – bener padet, riuh – ricuh, dan agak – agak serem karena banyak yang bilang (termasuk Bene – wanita Perancis yang kami temui di Cordoba) bahwa banyak banget copet di Paris. Kami memitigasi hal tsb dengan meninggalkan barang – barang di hotel dan hanya membawa fotocopy paspor juga tas punggung yang kami gembok (ini beneran parno). Gak sampe jam sebelas kami memilih untuk kembali ke hotel. Gak kita banget buat ngabisin waktu di tengah – tengah keramaian. Kami memilih melihat kembang api dan gemuruh suaranya dari kamar hotel saja. Berbekal GPS dan peta kota paris dari hotel, kami berjalan pulang sambil mengomentari indahnya malam di Paris. Tiba – tiba ada wanita dan pria yang mendekati kami, seorang turis, mungkin masih dari Eropa atau dari US – yang jelas bukan warga lokal.

New Year in Paris
New Year in Paris

“Hey, can you speak English?” si wanita bertanya penuh harap ke arah kami.

“yeah sure”

“do you know where is bla bla station?” (lupa nyebut stasiun metro apa)

Sambil berdiskusi kecil dengan mereka, akhirnya kami menyerahkan peta yang kami dapat dari hotel kepada mereka untuk at least meng guide mereka supaya gak tersesat lebih jauh.

“oh really? Is it for us? That’s very nice of you two! Thank you so much” mbak bulenya semacam gak percaya dengan apa yang telah kami lakukan.

Alhamdulillah ya bang, bisa jadi duta Islam. Dan, kami baru sampe di hotel hampir jam 12 karena GPS nya tiba – tiba bermasalah dan kami udah gak pegang peta. Your welcome, sist!

Esok pagi nya kami pergi lagi ke menara Eiffel, memilih untuk mengambil foto di pagi yang cerah dan berharap orang – orang masih mabuk karena pesta ganti tahun semalam sehingga kami bisa leluasa ambil foto di depan Eiffel. Ternyata, di luar dugaan, sudah banyak turis – turis yang mengambil spot – spot terbaik untuk berfoto. Gak mau ketinggalan, kami pun langsung mengeluarkan tripod pinjaman dan kamera sambil mencari spot yang bagus buat foto – foto pasca wedding versi kami. Gak dimanapun, biasanya sesama turis saling minta difotoin. Kami sudah meminta difotoin banyak banget dengan turis yang berbeda – beda. Pertama sama warga Malaysia yang merupakan pasangan baru. Kami saling memberikan arahan gaya. Ini seru banget sih, karena aku tiba – tiba minta foto dengan pose suami mencium pipi saya. Kemudian mbak malay nya bilang ”oh, so romantic. I nak pose cem tu”. Disini kami juga bertemu sama penipu muda. Ada beberapa anak – anak muda, bawa kertas, bertuliskan sumbangan untuk anak – anak bisu dan tuli. Dilihat dari form nya, ada yg ngasih 20 euro, 30 euro, dst. Wow banget kan. Awalnya kami gak tau kl mesti nyumbang. Kami cuma disuruh nulis nama, asal, dan tanda tangan aja. Dikira awalnya ini berupa petisi aja buat ngedukung gerakan sayang anak bisu tuli. Eh ternyata minta sumbangan. Awalnya mereka bilang gini ke saya “wow, your so beautiful. Please sign it” eh pas ditagih uang, dan saya pun langsung menolak, langsung deh ngomong pake bahasa perancis yang artinya entah apa (semoga artinya juga your so beautiful, hahaha).

Di Depan Rumahnya Sandy Cheeks
Di Depan Rumahnya Sandy Cheeks
Pasca Wedding
Pasca Wedding
You & Me
You & Me
Ne Me Quitte Pas
Ne Me Quitte Pas

Dari Eiffel, kami berjalan kaki menuju Louvre. Melewati jembatan yang ada di filem – filem (penuh dengan gembok), melihat bianglala nya Paris walaupun dari kejauhan. Kami lumayan berjalan cukup jauh. Banyak banget ditemui bekas botol minuman keras di jalanan. Efek after party semalam. Di Paris, hebatnya banyak toilet umum yang canggih. Sangat memudahkan untuk para turis seperti kami. Sampe di Louvre, kami hanya berfoto – foto di luar saja. Gak masuk ke museum. Abang sudah merasakan bahwa badannya gak enak. Kayaknya sih masuk angin. Sehingga kami pulang ke hotel. Di perjalanan pulang menuju hotel, kami menemukan warung kebab. Wah pas banget, belum makan siang dan nemu kebab! Akhirnya kami membeli dua potong kebab dan minuman. Ternyata pemiliknya adalah orang Turki yang mengucap Alhamdulillah saat tau kalo kami juga muslim. Sampai di hotel, kami melahap dengan buas kebab. Abang pun minta dikerok. Jauh – jauh ke Paris malah masuk angin, hahhaa.

IMG_1142

IMG_1145

IMG_1139

Pont des Arts
Pont des Arts

IMG_1133

Mr. & Mrs. Pratama
Mr. & Mrs. Pratama

IMG_1113

wpid-20150101_125511.jpg

IMG_1110

IMG_1141

IMG_1134

Hasil Kerokan Koin 2 Euro
Hasil Kerokan Koin 2 Euro

Keesokan harinya Paris diguyur hujan. I love Paris in the rain. I love Paris in the rain. I love.. I love.. in the rain… lagu Ne Me Quitte Pas nya Regina Spector langsung diputar berulang di kepalaku. “Ne me quitte pas mon chere, Arian Dito”

Sebelum pulang ke Milan, kami ke Eiffel lagi. Pengen foto pake instax – kamera kado pernikahan dari Tika. Akhirnya kami mengatur gaya dan posisi, setelah meminta seorang bapak Indonesia yang sedang berada di radius foto kami.

“Pak, boleh minta tolong difotoin gak?”

“wah boleh – boleh. Ini yang kamera langsung jadi ya?”

“iya pak. Pak agak majuan ya. Foto nya agak ke bawahan dikit. Yak, gitu bener.”

Setelah ngobrol sama bapak itu, ternyata beliau adalah seorang Dubes. Sang ibu pun (istri dari si Bapak yang gak jauh dari kami) melambaikan tangan ke arah kami. Ouch.

Sesampainya di Airport, kami kena pemeriksaan barang bawaan. Ternyata di dalam tas kabin kami ada air 1.5 liter yang lupa kami minum. Akhirnya harus disita oleh petugas. Petugas pun bertanya kepadaku

“do you want to drink it now?”

“no thanks.”

“are you muslim/muslimah?” sambil membuang botol minuman ke kotak.

“yes. Are you?”

“yes, I’m from Aljazair” sambil tersenyum dan berbincang – bincang dengan kami. Bertanya berapa lama stay di Paris, menginap dimana, asal mana, dlsb.

Ternyata Paris gak se – mengerikan seperti yang aku bayangin selama ini. Dimana muslimah harus menggunakan wig untuk menutup rambutnya karena larangan berhijab. Alhamdulillah semua lancar dan aman. We’re gonna miss you, Paris! Dan, gak beberapa lama sampe di Indo, penyerangan Charlie Hebdo terjadi….

Live Music at Eiffel Tower
Live Music at Eiffel Tower

IMG_1128

Ready to Go Home
Ready to Go Home

Milan, Italy 4 Januari 2014

Hari ini, dari pagi kami sudah berbelanja di Esselunga, swalayan besar yang ada di San Donato, sekalian lihat kantor ENI dari luar. Disini kami berbelanja segala macam kebutuhan untuk housewarming di apartemen dengan mengundang teman – teman kantor abang. Aku dan abang sangat antusias menyiapkan semua ini. Disini, agak beda sama di Indo. Bawang merah nya seperti bawang Bombay dalam segi ukuran, sangat besar. Terus kami bingung apa bahasa Italy nya seledri. Akhirnya kami memasak sop tanpa menggunakan seledri. Kami pun mebeli daging di toko Arab yang menjual daging halal untuk dibuat sop dan campuran sambal lado terong.

Selesai membeli daging, kami pun melanjutkan perjalanan pulang menuju apartemen. Aku mulai tersadar, waktu yang kupunya semakin sedikit. Tinggal malam ini, malam yang akan aku habiskan bersama suamiku dan bersama teman – temannya yang sudah menjadi bagian keluarga karena banyak menolong saat abang bingung harus berbuat apa. Akhir april cepatlah datang, harapku terhadap waktu kepulangan abang.

Menu malam ini adalah terong+daging balado, bakso (ala chef Dito), pempek (cuka home made ala DitOcha), Sop buah (segala buah kita masukin, even belimbing!), dan salad ala Java alias pecel sayur. Soooo yummie untuk menu musim winter (pendapat si empunya acara).

img1437450252116

FB_IMG_1437450143054

Ada rizki (yang mau dijodohin sama temen kantor tp gagal), mas ludi (yang mau dijodohin sama temen kuliah tapi gak ada progress), mas irvan (yang ternyata temennya mbak Lusi –spvnya fakhri, temen seperjuangan apprentice), finka (yang pernah diasistenin di lab FR, OMG) dan murni teman dari Malaysia (yang ternyata adeknya temennya Intan –sobi dan roomate jaman ngekos depan kantor-), agha (yang ternyata pacarnya adalah adek dr temen kantor), mba kemala (yang abis nyetirin cowok2 entah berapa ratus kilometer dan cewek super branded gaul se Milan), herman junaedi johan (yang suka pete –serius ini lupa apa lagi selain pete-), dan ada bang edo (yang ngakunya padang tapi gak tahan terong baladonya dan juga super branded sm ky mbak kem).

Thanks a bunch semuanya sudah datang ke via orti 14. Malam yang akan selalu dikenang sama aku dan abang. So sweet banget ternyata persahabatan di negeri yang jauh dari ibu pertiwi. Bisa banget jadi sodara seketika. Banyak banget cerita dari abang kalo para suhu dan pendahulu nya ngasih barang buat anak yang baru dateng, selalu ngajakin jalan – jalan at least makan bareng kayak gini, dan masih banyak lagi. Bahkan abang dapet sepeda dari salah satu teman yang udah balik duluan ke indo.

Krek krek krek

“bunyi apa sih itu di luar?” Tanya rizki penasaran saat makan malam.

“oh itu bunyi terpal di luar ki.” Timpal abang

“semoga bunyi terpal bisa menggantikan posisi ocha saat doi udah balik ke indo ya.” Jawab rizki dengan polos.

Hahhahahaha. Aku gapapa kok, kata abang.

FB_IMG_1437450120723

FB_IMG_1437450113984

Milan, Italy 5 Januari 2014

“ayo dek kita siap – siap buat belanja titipan barang”

Pagi itu, rasanya males banget buat jalan keluar bahkan untuk sekedar menghirup udara Milan yang lembab kala itu.

“hmmm…” Bahkan untuk mengiyakan saja aku malas menjawabnya. Aku hanya menjawab dengan sebuah dehaman. Aku sangat berharap tanggal 5 Januari 2015 bisa lebih dari 24 jam sehingga aku bisa bertahan sedikit lebih lama bersama abang.

Oh Duomo, ramai sekali tempat ini. Bahkan lebih ramai dibanding kunjungan pertamaku kesini. Oh mungkin karena tulisan SALDI bertebaran disepanjang mata memandang. Dari semua barang kecuali chanel dan selevelnya, semua bisa dipastikan sale. Euphoria untuk belanja bagi perempuan emang luar biasa banget walaupun kaki harus keinjek. Banyak banget pemandangan yang lucu buat diceritain tapi gak ada yang lebih penting dari pemandangan jam tangan casio yang nempel di tanganku yang jarumnya selalu bergeser, mengingatkan bahwa aku gak punya banyak waktu lagi buat lebih lama di kota mode ini.

Jam 3 sore kami pulang dari Duomo menuju apartemen untuk packing. Bahkan aku pun terlalu malas untuk packing. Sedangkan kami at least harus berangkat jam 5 untuk menuju bandara. Saking buru – buru dan grasakgrusuk nya kami saat packing, abang gak sengaja membanting koper yang mengenai jari kelingkingku. Awalnya aku diam. Namun, entah kenapa aku pengen banget buat nangis. Tiba – tiba air mataku menyeruak, nafasku tersengal, bicaraku menjadi sesenggukan. Aku peluk abang. Lama.

Mata dan Hidung (?) Sembab
Mata dan Hidung (?) Sembab

Mata sembabku gak bisa aku tutupin pake sunglass karena jam 5 sudah gelap. Di kereta menuju airport, kami duduk berhadapan dengan pasangan kakek nenek. Ah, semoga. Pengharapan pun langsung dilantunkan kepada Yang Kuasa sambil menitikkan uap di ujung mata.

There’s no goodbye between us.

See you later Milan, see you soon abang.

And I left my heart in Milan.

And my scarf.

And my hairdryer.

And my wallet.

See You Soon, Milan!
See You Soon, Milan!

“Don’t depend too much on anyone in this world because even your own shadow leaves you in the dark” Ibn Taymiyyah

Dan akhir April abang pulang, beserta jilbab, pengering rambut, dan dompetku. Alhamdulillah akhir april kami beserta mama dan ochi berkesempatan untuk umroh. Alhamdulillah.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”QS Ar Rahman

Catatan Perjalanan Dua Insan Part IV

Rome, Italy 28 Desember 2014

Dalam perjalanan menuju airport Attaturk untuk mengejar pesawat yang akan menerbangkan kami kembali ke Italy, aku merasakan perasaan yang membuatku berat untuk meninggalkan Turki, Istanbul lebih tepatnya. Semua tentang sejarah islam, makanan yang gak pernah failed, suasana kotanya, pedagang chestnut jagung bakar dan roti gandum, wangi tanah basahnya Istanbul saat diusap hujan, gagahnya Haigha Sophia dan kecantikan Blue Mosque, istimewanya Topkapi Museum, beceknya Gran Bazaar, derai angin yang menusuk saat di Bosphorus, kucing yang imut banget dengan mata belo bulu tebal, wanita yang masyaAllah cantik banget dengan padanan hijab khas Truki nya, azan khas Turki, lampu taman dan colorful lentern nya, senyuman manis berbalut cengiran dari sesama traveller saat minta difotoin di blue mosque dan haigha sophia, perasaan seperti di rumah saat ketemu orang Indo yang melipir ke Turki saat umroh atau sekedar orang yang berwajah melayu, bahkan terbayang kecilnya ruangan kamar yang kami tinggali namun tetap nyaman karena pemandangan masjid yang disuguhkan. Pikiranku asik melayang – layang saat itu, sampai…. Aku mendengar suara yang dikeluarkan dari pasangan yang sedang asik berciuman. Wanita Jepang dan pria Turki. Oh. Aku langsung cari – cari pemandangan lain yang bisa aku jadikan penutup kenanganku di Turki. Dan saat itu mataku tertuju pada 2 orang pria dan 1 orang wanita bertampang melayu yang masuk ke metro. Ternyata mereka adalah mahasiswa Malaysia yang sedang mengambil master nya dibagian sejarah. Tepat banget. Setelah ngobrol singkat, kami berpisah dengan saling mendoakan keselamatan masing – masing. Assalamu’alaikum.

Carrier Bag 40 L, Backpack, dan Tas Berisi Pakaian Kotor
Carrier Bag 40 L, Backpack, dan Tas Berisi Pakaian Kotor

Sesampainya di bandara, kami langsung check in. Kami pun tertidur pulas lagi di atas awan. Waktu yang seperti ini harus kami gunakan, karena kami akan sampai agak malam. Entah kenapa saat itu aku merasa kalau perjalanan kembali ke Italy itu seperti kembali ke rumah (mulai sompral). Tapi beneran, mungkin karena peristiwa di Turki dengan adegan dorong – dorongan saat baru pertama kali sampe yang bikin baret trauma di alam bawah sadar. Mungkin karena abang sudah bisa sedikit berbahasa itali. Atau mungkin  juga karena abang pernah ke Roma, jadi gakan ada adegan nyasar – nyasar cari tempat penginapan. Dan ternyata, keliru.

Bye Istanbul :(
Bye Istanbul 😦

Sampai di Bandara Fiumicino sekitar jam 8 malam, setelah melewati peristiwa landing yang menegangkan. Cuaca saat itu cukup berangin dan hujan. Namun Alhamdulillah kami bisa mendarat dengan selamat setelah pesawat beberapa kali goyang. Kejadian ini lebih parah dibandingkan tahun lalu, Desember 2013. Saat aku menuju ke rig menggunakan pesawat kecil, Pelita Air. Saat itu pesawat harus landing di Batam karena tidak memungkinkan untuk melanjutkan penerbangan. Jadwal untuk menaiki chopper pun tertunda karena angin yang sangat kencang akhir tahun lalu. Sampai di rig pun, tender rig – yang tidak menenggelamkan kaki nya untuk berdiri (memang tidak punya kaki seperti jack up rig) namun menggunakan anchoring system untuk menyangganya, bergoyang – goyang tanpa bosan. Pekerjaan pun ditunda karena alasan keselamatan. Namun, malam itu, malam di atas pesawat menuju Roma, saat itu perutku mual menahan getaran yang ditransmisikan dari badan pesawat.

Saat aku bisa menapakkan kakiku dengan selamat di atas tanah Roma, aku langsung menuju toilet. Toilet di bandara ini gratis. Dan sangat bagus. The best restroom selama perjalanan kami. Ada tombol – tombol yang gak aku ngerti gunanya untuk apa. Lantainya bersih banget. Semua putih, semua bersih. Setelah membasuh muka untuk mengembalikan kesegaran, aku keluar dari toilet. Sudah ada abang yang menunggu di depan pintu toilet dengan senyuman. Gak pernah berubah. Mual dan lelah pun seketika menghilang dari peredaran.

Dari airport, kami harus menaiki kereta selama satu jam untuk menuju kota. Tujuan kami adalah Roma Termini. Dan penginapan kami gak jauh dari situ, hanya butuh 10 menit untuk berjalan. Sampai di Termini aku dan abang cari tempat makan. Disana kami ganjel perut dengan roti dan cappuccino. Kami pun siap untuk mencari tempat penginapan yang sudah abang booking. Sayangnya, hape abang entah kenapa bermasalah dengan GPSnya. Namun dengan jumawanya abang tetap mengarah ke satu arah jalan dengan yakin. Jadi dari Termini, ada dua arah sebut saja kanan dan kiri karena aku gak bisa inget apakah itu pintu timur utara selatan atau barat. Kamipun keluar dari pintu kanan dari arah datangnya kereta. Abang pun tetap yakin akan pilihan arahnya. Sampai 15 menit kami berjalan, dengan beban yang cukup berat di punggung, dan tambahan 1 tas pink berisi pakaian kotor, ditambah gerimis yang walaupun dari awal sudah kami abaikan, aku pun mulai meragukan insting abang. Abang sebegitu yakin karena abang sudah pernah ke Roma saat merayakan idul fitri. Penginapannya pun dekat dengan penginapan kami malam ini. Setelah nafas yang tersengal – sengal, coat yang mulai basah karena kami tidak menggunakan payung, kaki yang mulai pegal, tangan yang mulai sakit menenteng tas pink (kami bergantian menentengnya, walaupun abang maksa buat membawakan ranselku beserta tas pink tersebut), pundak yang rasanya mau copot, kami pun berbalik arah lagi. Baru kali ini aku merasa terusik akan usapan hujan. Kembali menuju Termini, melewati taksi, kami pun bertanya kepada supir taksi tersebut nama jalan tempat penginapan kami berada. Dia bilang kalo kami salah arah. Harusnya keluar dari pintu yang satu lagi, saat kembali menuju Termini, Alhamdulillah jackpot banget rasanya menemukan restoran kebab yang sudah jelas halal. Ah, Alhamdulillah. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” QS Al – Baqarah : 286. Aku pesan kentang dan ayam, abang pesan nasi kari. Nasi loh nasi. Akhirnya makan nasi hari ini. Kami makan dengan liar dan buas gak tengok kiri kanan. Peluh lelah kami berubah menjadi senyum bahagia melihat nasi kari, kentang, dan chicken wings. Bahagia banget rasanya.

Setelah tenaga cukup untuk jalan lagi, kira – kira sudah jam 10 saat itu, kami pun menuju Termini. Di Termini abang bertanya pada polisi tentang lokasi tempat penginapan kami.

“dek tunggu sini ya. Abang tanya – tanya dulu sama polisi, atau petugas disini. Kamu gak usah ikut, capek. Bentar doang kok.”

“okey bang.”

And it’s not okay. 5 menit pertama, mataku melalang buana menyusuri sudut termini yang tampak dari posisiku. Disitu aku hanya berdiri. Satu ransel dipunggung dan satu tas pink di lantai. Saat itu hari sudah beranjak larut, aku hanya melihat Termini yang sepi. Tempat makanan sudah ditutup. Hanya ada beberapa pemuda yang berlalu, pergi. 10 menit berikutnya, aku mulai bosan menggulirkan pandangan ke sudut – sudut Termini. Sudah khatam. Bosan. Diam. Sepi. Mengarah ke spooky. 15 menit, aku mulai resah. Semoga abang gak nyasarception ya. Nyasar di dalam ketersasaran. Dan gak berapa lama abang muncul. Sambil berlari kecil ke arahku. Membuka tangannya sambil memberikan gerakan yang menyuruhku berjalan ke arahnya.

“maaf ya lama. Maa-“ abang meminta maaf. Sebelum berkata lebih banyak aku langsung menyelak.

“jangan pernah tinggalin dedek lagi.”

“iya iya janji. Maafff yaa..”

Ternyata baru ditinggal abang lima belas menit aja aku udah takut. Apalagi ini di Roma, bukan Simatupang.

“bang jangan tinggalin dedek sendiri lagi ya next time”

“iyaaaa sayang, okee”

And again, it’s not okay. Saat mau ke venice abang ninggalin aku lagi. Dan saat itu aku ngerasa jadi Daisy di film Barefoot. Saat dia nunggu Jay Wheeler di terminal bus, yang ternyata Jay malah berniat ninggalin Daisy di terminal.

Tulisan jalan di Roma berada di tembok. Jadi aku gak lihat ada papan atau plang jalan disini. Alhamdulillah sekitar hampir jam 11, kami tiba di Domus Castrense. Penampakan penginapan kami dari luar itu seperti apartemen tua. Pas masuk, wah banget. Ini penginapan terbaik selama perjalanan kami. Bener – bener homey banget suasananya. Ditambah dengan lift klasik yang ada di penginapan ini. Sama seperti lift yang ada di film Titanic. Very recommended. Apalagi yang dibutuhkan saat badan kelelahan setelah diusap hujan dan berjalan panjang? Kasur! Ditambah dengan suasananya, aku malah jadi semangat lagi. Semangat untuk tidur. Setelah bebersih, solat, sedikit mengeksplor ruangan kamar yang super luas (bener – bener beda sama yang di Istanbul), dan memberikan kabar kepada duo mama (di Indo bahkan udah subuh), kami pun nyenyak dan larut dalam dekapan malam di Roma. Buonanotte, Rome!

Domus Castrense
Suasana Homey di Domus Castrense
Lift Seperti di Titanic
Lift Seperti di Titanic

Sarapan di penginapan ini gak perlu susah – susah untuk turun ke restoran bawah. Malamnya kami mengisi form mau makan dan minum apa. Paginya, setelah mandi, sudah tertata rapi di meja makan yang ada di dalam kamar dua porsi sarapan. Hari ini kami berencana ke Colosseum. Tempat yang aku impikan sejak lama. Yang hanya dibayangkan saat pelajaran sejarah tentang Eropa. Yang hanya bisa aku lihat di google atau foto teman – teman yang lebih dulu kesini. Ternyata Roma just another big city. Metronya penuh dengan grafitty dan coret – coret. Penuh dengan vandalism. Bahkan sebelum naik ke metro, seorang warga lokal memperingatkan abang membawa ranselnya dengan digendong di bagian depan, jangan di punggung. Udah serasa di stasiun Kota ini mah.

Colosseum
Colosseum
Colosseum
Colosseum
Colosseum
Selfie @ Colosseum

wpid-img_0967.jpg

Colosseum
Colosseum

wpid-img_0942.jpg

colosseum ceria

Dari Colosseum, abang mengajakku ke Trevi Fontana. Tapi sayangnya sedang ada renovasi. Walaupun Roma agak kriminal, tapi eksotisme Roma menawarkan sesuatu yang berbeda. Sayang pengetahuan sejarah ku akan Roma dangkal banget. Aku menikmati tiap bangunan yang ada di Roma. Siangnya kami makan spaghetti dan pizza. Emang beda banget spaghetti disini. Setelah memastikan bahwa spaghettinya gak dimasak menggunakan wine dan memilih spaghetti margheritta (spaghetti dengan toping tomat), kami pun memakannya dengan lahap. Hari itu memang dingin banget. Setelah makan aku masih memesan Gelato pistachio mix chocolate untuk penutup. Gak heran pulang dari perjalanan beratku bertambah tiga kilo.

Gelato
Gelato
Trevi Fontana
Trevi Fontana

wpid-img1425010335677.jpg

Vatican CIty
Vatican City
Winter @ Rome
Winter @ Rome

wpid-img1425010435284.jpg

wpid-img1425010480019.jpg

Hari pun sudah mulai beranjak sore, kami memutuskan untuk kembali ke Termini. Melanjutkan perjalanan menuju Venice! Sebelum ke Termini, kami sempatkan untuk bermain di jembatan yang aku lupa namanya tapi banyak banget orang yang foto – foto disekitar situ. Oia, sebelumnya kami menitipkan barang bawaan kami di tempat penitipan berbayar di luar Termini. Jadilah aku menunggu di Termini sedangkan abang mengambil carrier bag dan tas pink. Disini aku menunggu 30 menit. 2 kali lipat dari semalam. Bener – bener ngerti perasaannya Daisy saat Jay ditunggu – tunggu tapi gak kunjung datang. Namun, saat Jay memutuskan untuk kembali dan bertemu Daisy di terminal, wajah Daisy tak berhenti mengembang karena senyuman. Seperti mendapatkan undian atau apapun ekspresi wajah saat mendapatkan berita gembira. Begitu pula denganku, saat abang datang dengan carrier bag di punggung dan menenteng tas pink, aku menjadi wanita paling sumringah se- Terimini. Karena, satu menit menunggu itu sangat mematikan.

Senora, senora!” teriak seorang ibu.

Aku gak sadar kalo ternyata ibu itu manggil aku. Sweaterku terjatuh saat aku menuju kereta.

“Grazie, mam” ucapku sembari menyambut sweater yang diberikan sang ibu.

“Prego”

Ternyata di luar dugaanku, aku menaiki kereta cepat Italy. Aku gak nyangka abang bikin kejutan seperti ini. Bahkan kami duduk di Gerbong 1. Ah suamiku, terima kasih banyak! Venice, tunggu kami!!

Venice, Italy 29 Desember 2014

Di dalam kereta cepat, Frecciargento, aku dan abang benar – benar menikmati perjalanan malam kami. Aku sangat beterimakasih atas kebaikan abang yang sudah meng-arrange semua ini. Malam ini aku serasa memerankan Elise yang diperankan oleh Angelina Jolie di film The Tourist, bersama kekasihnya Johnny Depp (menghayal sedikit masih halal ya :p). Sepanjang perjalanan kami berbincang – bincang ringan. Tentang apa saja yang kami mau. Mengenang masa – masa jahiliyah kami waktu dulu. Mengenang keseruan saat menyiapkan pernikahan yang diawali dengan banyak sekali perasaan roller coaster. Berkisah tentang cita – cita kami kedepan. Alhamdulillah, bimbing kami selalu ya Allah…

20141228_184956

20141228_184411

“Abang sayang kamu.” Tiba – tiba abang berkata di luar kebiasaan.

“udah tau. Makanya kamu nekat nikahin aku. Kamu milih aku dibanding S2 di Jerman. Padahal itu impian paling liar kamu. Hahahaha.” Aku dengan jumawanya menjawab sambil tertawa iblis.

“Gak kali, abang tetap di Jakarta karena abang keterima ENI.” Jurus andalan abang keluar untuk mengelak kenyataan.

“Meh. Bosen ah alesannya.”

“haha, ngambek sih.”

Kurang lebih perjalanan dari Roma ke Venice memakan waktu 3 jam 45 menit. Cepet ya. Sesampainya di  stasiun St Lucia di Venice, Alhamdulillah dengan selamat sentosa, kami langsung berburu penginapan kami. Waktu keluar dari stasiun, WOW!!!

Aku langsung teriak, “abaaaaaang, asa Angelina Jolie kieu euy bang!!!” ah senaaang.

“norak woy norak” abang menjawab sambil berjalan menjauhiku yang masih kegirangan melihat Venice.

“bang ih. Ini kan scene yang ada di The Tourist ihhh. Ini nih, banget nih. Disini banget. Pas disini banget lah. Fix.” Aku masih terpukau sama keindahan Venice, sementara abang sudah berjarak 10 meter di depanku.

Alhamdulillah banget kami gak perlu muter – muter cari penginapan. Kami menginap di Hotel Il Moro di Venezia. Hotelnya bener – bener deket dari stasiun. Asik. Kita bisa titipin barang di hotel saat kita berjalan – jalan di Venice.

Welcome to Venice
Welcome to Venice
Pemberhentian Metro
Pemberhentian Metro

image

Halo From Venice!
Halo From Venice!
Gondola
Gondola

Dikarenakan Venice adalah kota turis banget, jadi disini apa – apa serba mahal. Stock kurma kami pun sudah habis. Jadi kami harus tega mengeluarkan uang untuk makan. Kami gak boleh telat makan karena di cuaca ekstrim seperti ini (Venice paling dingin diantara Negara dalam trip kami) gampang banget untuk collapse. Walaupun Venice kota turis, tapi gak ada masjid atau bahkan sekedar musola sama sekali. Padahal yang kesini banyak juga yang berjilbab. Aku bertemu di beberapa tempat. Saat di gerai Chanel misalnya. Ada ibu – ibu berjilbab tampang melayu sedang asik memilih tas Chanel yang harganya lebih mahal dibanding motor ninja. Wow. Aku masuk ke gerai Chanel juga karena mau lihat titipan teman, bukan karena mau beli. Percuma kalo aku pake tas Chanel pasti juga dikira tas mangga dua. Terus juga pas makan siang, aku melihat keluarga bertampang melayu yang wanita – wanitanya berjilbab. Ternyata mereka orang Indo. Salut banget ternyata mereka lagi familymoon. Sampai neneknya pun diajak. WOW. Banyak juga wanita berwajah arab yang aku temukan saat di Piazza San Marco.

Venice, I'm in Love
Venice, I’m in Love

Kami membeli tiket free pass menaiki metro air. Jadi kalo di Milan atau di Roma metro nya itu berbentuk kereta, kalo di Venice metronya berbentuk boat. Nah boat ini lah yang menghubungkan tempat satu dan tempat lainnya di Venice. Jadi misalnya ada yang mau beli bumbu dapur, mereka harus pergi ke pasar naik boat. Keren banget ya. Hahaha.

wpid-img_1019.jpg

wpid-img_1038.jpg

Asa di Film The Tourist
Asa di Film The Tourist

wpid-img_1055.jpg

wpid-20141229_165550.jpg

Venice itu Italy banget kalo menurutku. Rumah – rumahnya kecil tapi tinggi ke atas. Jalanan di Venice itu di dominasi dengan gang – gang dan canal. Serasa di Petak Sembilan atau Kampung Jawa di daerah Kota Jakarta Barat. Cuma bedanya disini super bersih. Gak ada pedangang kaki lima, adanya gerai tas – tas bermerk, restoran, dan galeri seni. Oia di Venice ini banyak theater yang menampilkan Opera Show. Pengen banget aku nonton opera layaknya di film jadul Hollywood yang melihat wanita bersuara sopran dari bagian atas menggunakan opera glasses. Namun sangat disayangkan, atau malah harus bersyukur karena kalaupun jadi aku gak ngerti mereka ngomong apa, kereta yang akan membawa kami ke Milan berangkat jam 8 malam sedangkan show baru dimulai jam 9 malam. Di Venice juga banyak yang menjual topeng – topeng wajah. Kalau seperti ini jadi inget film Cassanova.

Berbicara tentang Venice, pasti selalu lekat dengan alat transportasi yang bernama Gondola. Rate Gondola adalah 100 Euro selama 1 jam. No thanks! Mendingan aku dan suami foto – foto di depan gondola yang lagi lewat aja deh yaaa. Karena aku suka naik boat alias metro di Venice, dan memang kami membeli tiket free pass, jadilah kami berniat untuk Get Lost in Venice. Kami turun di pemberhentian St Elena kemudian berjalan hingga bertemu pemberhentian Biennale. Disini kami melihat taman, patung – patung, dan pemandangan yang indah banget. Sampai ada pasar malem nya pula. Kami pun puas berkeliling keluar masuk gang di Venice. Karena hari sudah mulai gelap, dan sebelum kami nyasar makin jauh gak tau arah ditambah cuaca yang berangin dan superrrrr dingin dan ditambah lagi aku udah kebelettt banget, jadilah kami memutuskan untuk kembali ke hotel untuk mengambil barang dan mencari makan. Tapi karena udah gak bisa ditolerir lagi, akhirnya aku menggunakan toilet di stasiun St Lucia dengan melerakan 1 Euro lenyap sebagai token yang harus dimasukkan saat masuk toilet.

Nyasar Dalam Kedinginan
Nyasar Dalam Kedinginan
This Museum Does Not Have An Exit
This Museum Does Not Have An Exit

wpid-20141229_133954.jpg

Dinginnya Venice membuat perut kami pengen banget makan bakso. Tapi karena hal tersebut gak memungkinkan, yasudah kami berpasrah untuk makan roti lagi. Masuk ke sebuat restoran dekat hotel, kami memilih makanan. Dan ternyata ada menu Zuppa di Pesce alias sup ikan. Rasanya mirip banget kayak tekwan. Alhamdulillah, jackpot combo banget. Serasa makan tekwan di Venice. Setelah makan, kami kembali ke hotel mengambil barang dan siap – siap pulang ke Milan. We miss you, Milan!

My Babydino
My Babydino

Catatan Perjalanan Dua Insan Part III

Istanbul, Turki 25 – 27 Desember 2014

Di airport  Barcelona, kami berdua menunggu kedatangan Turkish Airlines. Pesawat yang akan membawa kami ke Turki. Sambil berbincang – bincang dengan suami hingga bosan, pesawat yang ditunggu tak kunjung datang. Kami menikmati waktu dengan memperhatikan tingkah polah pasangan lain. Ada yang sedang selfie dan ada yang sedang tidur bersandar di bahu pasangannya. Kami? Kami menikmati pemandangan yang ada sambil menahan kuap kantuk.

Breakfast @ Barcelona Airport
Breakfast @ Barcelona Airport

Sesaat setelah pengumuman boarding, kami pun bergegas masuk ke pesawat. Di dalam pesawat kami menikmati hidangan makanan khas Turki. Lezaaaat. Mungkin karena beberapa hari terakhir kami hanya makan roti. Sedangkan masakan Turki lebih cocok dengan lidah orang Indonesia.

Melihat Istanbul dari atas, benar – benar seperti melihat kota yang sangat indah. Apalagi Haigha Sophia terletak dekat dengan selat Bosphorus. Benar – benar sangat mengagumkan karya Allah. Masjid ada di tiap jengkal. Di sini kami dengan mudahnya solat. Berbeda dengan kota sebelumnya yang memaksa kami untuk solat di bus atau kursi terminal.

Self-fly
Self-fly

20141225_115114

Halo Turkiye!
Halo Turkiye!

Sesampainya kami di Istanbul, Alhamdulillah, kami langsung menuju tourist information. Bertanya banyak tentang public transportation setelah sepasang bule sempat berdebat tentang tiket pass metro seharga 20 Lira. Pemuda lokal petugas loket tourist information menyarankan mereka untuk membeli tiket pass tersebut yang bisa digunakan beberapa kali dan akan lebih menghemat biaya. Namun mereka menolak dan petugas pun terlihat kesal. Mungkin mereka berpikir kalau itu adalah bisnis si petugas loket atau mungkin mereka takut tertipu atau bahkan mereka memang tidak akan menggunakan metro sesering itu. Sepasang bule tersebut pergi dan meninggalkan petugas menggerutu kesal. Dan tibalah giliran antrian kami. Kami langsung memutuskan untuk membeli tiket pass tanpa banyak bertanya. Dan beruntungnya kami, sebuah buku tentang panduan turis di Istanbul diberikan secara cuma – cuma olehnya. Kami meninggalkan loket setelah mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikannya tersebut.

Namun, ternyata kesan baik orang Turki hanya sebatas itu. Saat di dalam metro, sama seperti di commuter line Jakarta, semua orang berdesak – desakan. Bahkan saling berebut tempat duduk. Masih mending di Jakarta, pria yang duduk akan segera berdiri untuk memberikan kursinya kepada ibu – ibu tua. Kalo di Turki ini? Oh, mengkhawatirkan sekali perilakunya. Semoga ini hanya perilaku satu orang saja bukan warga Turki secara keseluruhan.

Setelah sampai di Blue Mosque, tempat pemberhentian metro, kami sangat tekagum – kagum akan kecantikan kota Istanbul. Ya Allah…. Aku selalu memimpikan untuk pergi ke Turki sejak kecil. Dan sekarang, aku berada di Turki, bersama suami. Dan di depan mata kepalaku ada Haiga Sophia. Tempat bersejarah islam yang selama ini aku dengar dari celotehan abang yang ngefans sama Muhammad Al Fatih II, penakluk konstantinopel. WOW WOW WOW.

Benar – benar sangat memukau pemandangan yang ditawarkan disekitaran Haiga Sophia dan Blue Mosque. Dengan suhu yang cukup dingin ditambah badan yang terlalu lelah, kami dengan terhuyung menelusuri jalan ke arah Haiga Sophia untuk mencari hotel tempat kami akan menginap. Abang memang sengaja memilih hotel yang dekat dan dengan harga yang terjangkau agar kami bisa dengan mudah ke situs bersejarah dan tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Kami menginap di Dong Yang Hotel. Untuk menemukan hotel tersebut, kami bertanya kepada petugas metro karena hape abang yang biasa digunakan untuk GPS mendadak mati. Baru mengeluarkan beberapa kalimat ke petugas yang berada di tempat pemberhentian metro, si petugas sudah memasang muka masam dan berceloteh asal menggunakan bahasa Turki yang tentunya gak kami ngerti. Dan tiba – tiba si petugas mendorong abang, kode untuk menjauh dari dirinya. Ziiing.. aku? Apa yang aku lakukan? Bahasa Turki gak ngerti, bahasa inggris tiba – tiba jadi kagok karena kondisi kayak gini. Aku Cuma “eh, eh, eh, eh”. Dengan meng’eh-eh’ tentu masalah hotel kami tidak semena – mena ditemukan. Alhamdulillah nya, ada orang yang berada di samping petugas dan bisa berbahasa Inggris sekenanya yang menunjukkan kami arah hotel. Ternyata hanya berjalan 5 menit saja dari tempat kami bertanya. Kami menelusuri jalan, dan aku melihat orang indo yang sedang berbicara indo, aku langsung pengen nanya “mas, bener kan hotel ini disana?” tapi abang langsung menyambar tanganku dan menahan aku untuk bertanya. “Biar kita cari sendiri. Gak usah tanya – tanya lagi”. Aku pun diam. Abang, mungkin dia lelah.

Colorful Lentern
Colorful Lentern
Magical of Istanbul
Magical of Istanbul

Setelah ter ‘wow-wow’ sama kejadian di pemberhentian metro tadi dan pemandangan sama malamnya Turki, kami tiba di hotel. Beyond my wild imagination, ternyata ini hotel korea. Wogh. Ini hotelnya mini banget. Dengan ukuran kamar mandi yang entah berapa kali berapa. Kalo mau make kamar mandi harus gantian jalannya supaya gak ketubruk satu sama lain. Bed nya juga mini. Kaki abang sampe ngegantung karena emang abang kelebihan panjang di kaki. Positifnya dari hotel ini adalah sarapannya yang lumayan enak. Apa sih yang gak enak tentang masakan Turki? Semua enak. Dari cemilan sampe makanan intinya. Tapi dibalik semuanya, kamar kita menyuguhkan pemandangan tepat di depan masjid. Masjid tua juga. Wah kayak kastil masjid nya. Keren banget apalagi pohon – pohon kering karena winter. Pemandangannya benar – benar magical dan misterius banget. Setelah bebersih – bersih dan cuci kaos kaki yang udah terfermentasi (bayangin aja gak ganti kaos kaki dari Cordoba, Barcelona sampe Istanbul. Iyeuh), abang ngajakin aku candle light dinner. Uuuu, mauu! Emang abang udah rencana buat candle light dinner di Istanbul. Aku pun bersiap – siap.

Menelusuri sepanjang jalan hotel kami mengarah ke Haiga Sophia, kami melewati tempat makan yang oke banget. Tapi karena dari luar terlihat fancy, kami mengurungkan niat. Kayaknya bakal kena mahal banget nih makan disini. Akhirnya kami mencari tempat makan lain dan menukar euro menjadi lira dulu sebelum makan. Nah, kami lewat tempat makan yang berderet – deret banyak. Disitu kami dipanggil – panggil, ditawarin, dan ditanya asal darimana. Style nya udah kayak mau makan di tanah abang. Kalo lihat dari tempatnya sih oke banget. Dihiasi lampu temaram dan pernak – pernik khas Turki di dalam ruang makannya. Wah kayaknya mah murah makan disini soalnya dipinggir jalan (ini katanya tadi mau candle light dinner. Tapi tetep cari mure), yaudah deh kita makan disini. Awalnya kita makan di bagian luarnya. Ada pasangan Turki gitu lagi asik menghisap sisha dan tiba – tiba ada kelompok musik yang membawakan lagu Turki untuk si cewek. Ini mah settingan si cowok aja supaya terlihat unyu (mulai apatis karena heater di luar gak nyala – nyala). Seneng sih bisa numpang denger live music tapi gak perlu bayar. Tapi karena heater nya gak nyala juga dan makanan lama banget datengnya, kami pindah deh ke dalem. Selain itu juga karena aku agak risih melihat wanita Turki itu mulai merokok, mungkin mulai merasa dingin karena hanya mengenakan rok mini di musim dingin kayak gini (gak jauh beda sama Bandung yang cewenya tahan pake rok mini di saat angin Bandung menusuk rusuk). Memang Turki pun juga terkenal dengan night live nya. Sedih memang apalagi ditambah dengan julukann “Sick Man of Europe”. Padahal dulu Konstantinopel, nama sebelum Turki, pernah jadi kiblat peradaban dunia. Oh Kemal Ataturk, thankyouverymuch udah bikin Negara ini jadi sekuler.

Senyum Menahan Lapar
Senyum Menahan Lapar

IMG_0741

“sorry, have you make any order?”, kata pelayan pria yang cocoknya jadi artis aja dibanding pramusaji.

“yes of course. We ordered lamb sish and chicken kebab”, abang menjawab pertanyaan si pelayan.

Akhirnya si pelayan minta maaf karena ternyata makanan kami belum dibuat sama sekali. Si pelayan mengeluarkan makanan khas Turki yaitu hummus, roti yang dikasih semacam yoghurt (kalo di Padang semacam dadih), sebagai permintaan maaf. Aku dan abang langsung melahap buas roti – roti hummus tersebut. Setelah mengobrol – ngobrol, ketawa – ketiwi karena membahas perjalanan waktu di Spanyol, pesanan kami datang. Wah, beneran deh makanan Turki ini emang enak banget. Apalagi abang si penikmat daging kambing, suka banget abang sama daging kambing ala Turki ini. Minuman khasnya adalah apple tea. Tapi malam itu aku masih pesan hot chocolate. Pengen ngebandingin sama the best hot chocolate ever dari Granada. Tetep deh hot chocolate Granada yang terbaik.

Tibalah waktunya untuk membayar makanan. Eng ing eng. Sebelumnya nih, ada yang bayar makanan dan langsung complain kenapa kok mahal banget. Sambil dicek harganya yang ada di menu. Makanya deh aku langsung minta cepet – cepet bayar supaya gak kelamaan disini. Kayak takut kena tipu gitu. Pas bayar ternyata kena 70 Lira. Padahal waktu ngitung sendiri kayaknya gak sampe 60 Lira. Bill nya pun cuma oret – oretan kayak di warung masakan padang. Huah, sedih banget kena gampar 70 Lira gini. Terus abang pun meracau, “kayaknya hummusnya gak gratis dek!”

Beauty of Haiga Sophia
Beauty of Haiga Sophia

Keesokan harinya, hari jumat berkah, pagi – pagi setelah subuh kita siap – siap untuk berkunjung ke Haiga Sophia. Zuppeeer exzited!!! Aku yang dari awal sudah diberi kuliah singkat tentang sejarah Andalus dan Istanbul merajuk abang berkisah lagi tentangnya.

“Istanbul adalah kota dengan sejarah islam yang sangat kuat. Dahulu kota ini dikenal dengan nama Konstantinopel, sebuah pusat kejayaan kaum nasrani dengan gereja Hagia Sophia nya yang memabukkan siapa saja yang pernah masuk ke dalamnya. Seorang sastrawan pernah menggambarkan ketika dia pertama kali masuk ke dalam Hagia Sophia, saya sudah lupa apakah saya sudah berada di surga atau masih di dunia. Selain keindahannya, Konstantinopel juga dikenal sebagai sebuah kota dengan pertahanan yang sempurna. Bagian belakangnya ditutup oleh laut Marmara dan disokong dengan armada laut yang tangguh oleh byzantium. Bagian sisinya yang berhubungan dengan selat tanduk, telah terhalang oleh rantai besar yang mampu mengenggelamkan semua kapal yang berusaha untuk menerobos pada masa itu. Sedangkan di satu satunya sisi yang mengarah ke daratan, Konstantinopel dilindungi oleh tembok raksasa berlapis tiga yang membuat semua pasukan ketar ketir ketika harus berhadapan dengannya. Di depan tembok tersebut, dibuat lubang dengan kedalaman belasan meter dan lebar sekitar 8 meter yang mampu menenggelamkan serbuan pasukan yang berusaha untuk menerobos secara langsung. Sebelum tahun 1400an dimana bubuk mesiu belum ditemukan, dan senjata jarak jauh paling canggih adalah menggunakan batu yang dilemparkan dengan sejenis ketapel berukuran besar, maka tentu tembok berlapis 3 adalah sebuah pertahanan yang sangat sempurna. Tidak hanya itu, masyarakat konstantinopel sendiri menyadari bahwa kota mereka telah menjadi incaran semua bangsa di dunia karena keindahan dan kekayaannya sehingga tembok tersebut ibarat urat nadi bagi mereka. Jika hancur tembok tersebut, maka hancurlah hidup mereka. Maka bagi mereka, ketika ada satu bagian dari tembok tersebut yang rusak maka mereka tidak akan segan untuk memperbaikinya walaupun tanpa harus dibayar. Meskipun demikian, persaingan antara kaum kristen yunani dan kaum kristen romawi membuat perpecahan di dalam konstantinopel sendiri yang pada akhirnya menimbulkan ketidaknyamanan pada penduduknya. Namun demikian, kaum kristen yunani membutuhkan bantuan dari byzantium untuk mengahalau serbuan bangsa yang berusaha menaklukan Konstatinopel sehingga mereka pun mau tidak mau harus tunduk pada kemauan Paus.

Tahun 1453, seorang sultan dari kekhalifahan Ustmani yang beribu kota di Edirne, sebuah kota yang berjarak sekitar 220 km dari Konstantinopel, bertekad untuk merebut Konstantinopel dari kaum Nasrani dan mewujudkan salah satu hadist Rasulullah SAW,

“Latuftahannal Kunstantiniya, falani’mal amiru amiruha, Walani’mal jaisyu zalikal jaisy”

“Akan ditaklukan Konstantinopel. Pemimpinnya adalah sebaik baiknya pemimpin, dan pasukannya adalah sebaik baik pasukan.”

Hadist tersebut telah menginspirasi semua pemimpin umat muslimin dari zaman khulafaur Rasyidin hingga kekhalifahan Ustmani untuk menjadi seorang pemimpin yang dipuji oleh Rasulullah SAW. Bahkan seorang panglima perang sekelas Salahudin Al Ayubi yang begitu melegenda pun tidak sanggup menaklukan kota tersebut. Hingga datanglah tahun 1453, seorang pemimpin kesultanan Ustmaniyah yang bernama Muhammad II bin Murad atau yang juga dikenal sebagai sultan Mehmed, mewarisi visi ayah dan kakek kakeknya untuk menaklukan Konstantinopel dan dididik oleh guru – guru terbaik di masanya hingga sanggup menghapalkan Al Quran pada usia 8 tahun dan mampu berbicara dalam 4 bahasa. Tidak hanya itu, beliau juga dididik dengan semua pengetahuan dan strategi berperang dengan diceritakan cerita – cerita perang yang pernah dilalui oleh Rasulullah hingga khalifah – khalifah sebelum beliau. Selain itu, demi memantaskan diri menjadi sosok yang dipuji oleh Rasulullah SAW, sang sultan pun menunjukan perangai pemimpin yang memang sebaik-baiknya pemimpin. Dari sejak baligh, sang sultan tidak pernah menginggalkan tahajud maupun shalat rawatib. Lebih dari itu, beliau pun tidak pernah menjamak shalatnya. Dan untuk memantaskan pasukannya menjadi pasukan yang terbaik, maka sang sultan pun membentuk pasukan bernama Yeniseri yang merupakan pasukan elite khusus. Pasukan ini dibentuk dengan mendidik pemuda dari usia 8 hingga 20 tahun dengan pendidikan khusus hingga mereka dipantaskan untuk menjadi pasukan terbaik. Pasukan ini dibagi menjadi kelompok – kelompok. Lalu diajarkan ilmu – ilmu Al Quran secara intens, hingga setengah dari pasukan ini tidak pernah meninggalkan shalat tahajud. Semua usaha itu demi mewujudkan hadist Rasulullah SAW.

Saat pasukan Sang Sultan bergerak menuju Konstantinopel, penduduk kota Konstantinopel menggambarkan mereka layaknya sungai yang berisi lautan besi yang berkilau karena perisai – perisai mereka yang memantulkan silaunya cahaya matahari. Sedangkan pasukannya sendiri menggambarkan betapa masifnya jumlah mereka hingga cahaya matahari tidak dapat menembus ke tengah tengah pasukan karena tertutup oleh perisai – perisai dan kemah – kemah mereka. Saat sampai di sekitar 8 km dari tembok konstantinopel, sang sultan pun mengehntikan laju pasukan. Tepat pada hari Jumat seluruh pasukan diwajibkan untuk membentuk shaf yang berbaris membentang sepanjang 4 km dari selatan konstantinopel berbatasan dengan laut marmara, hingga ke barat konstantinopel yang berbatasan dengan teluk tanduk emas. Melihat pemandangan tersebut, panglima perang konstantinopel merasa takjub seraya berkata bahwa dia melihat barisan kaum muslimin layaknya serpihan pasir yang tunduk patuh dan bergerak secara kompak dikomandoi oleh sang sultan hanya dengan satu kalimat takbir, Allahu Akbar. Jumlah pasukan kaum muslimin pada masa itu mencapai 250 ribu pasukan yang merupakan gabungan dari pasukan dari eropa dan asia. Belum ada pemimpin kaum muslimin pada masa itu yang mampu mengatur jumlah pasukan sebanyak itu dengan rapi dan sangat terorganisir baik dari segi logistik, penempatan pasukan, hingga moral pasukan yang terus dijaga agar memposisikan diri sebagai pasukan syuhada. Pada masa itu, ketika seorang umat muslim diundang untuk berperang di jalan Allah maka seolah dia sedang diundang untuk datang ke jamuan pesta serba mewah yang mana jika yang diundang berhalangan hadir makan tetangganya pun tidak akan segan untuk menggantikannya. Maka tidak heran jika pada masa itu, semua umat muslim baik dari yang masih anak – anak hingga yang sudah tua renta semua berlomba agar menjadi bagian dari pasukan yang dipuji oleh Rasulullah SAW sebagai pasukan yang terbaik.

Sebelum memulai perang, sultan mengirimkan utusan ke Konstantinopel untuk menyampaikan 3 pilihan bagi sang raja. Pilihan pertama adalah mereka mengucap dua kalimat syahadat dan memeluk agama islam, pilihan kedua adalah mereka dipersilahkan memeluk agama mereka namun harus membayar jizyah senilai sekitar 4 gram emas per tahun, atau pilihan ketiga yaitu pembebasan konstantinopel secara paksa. Namun demikian, penduduk konstantinopel yang telah terlindungi oleh tembok mereka yang telah bertahan selama ribuan tahun merasa sangat yakin bahwa kali ini pun mereka bisa bertahan di dalam tembok mereka sehingga perang pun tidak terelakan.

Sebuah meriam raksasa yang terbesar pada masanya dan mampu melontarkan batu seberat 400 kg digunakan oleh sang sultan dan pasukannya untuk menghancurkan tembok kota konstantinopel. Selain itu dari sisi lautan, ratusan kapal juga dikerahkan untuk menyerang Konstantinopel dari sisi yang berbeda. Namun kemudian, terlihat mengapa konstantinopel dijuluki sebagai kota dengan pertahanan yang sempurna. Setiap kali meriam raksasa tersebut ditembakan, ternyata dibutuhkan waktu hingga 8 jam untuk mendinginkannya agar menghindari keretakan akibat panas yang berlebihan. Akibatnya tembok yang tadinya sempat hancur, sempat diperbaiki oleh penduduk Konstantinopel. Sedangkan dari sisi lautan, pasukan laut Byzantium yang memiliki pengalaman berperang di laut hingga ribuan tahun memang masih terlalu tangguh untuk ditaklukan oleh pasukan laut Ustmaniyah yang baru berpengalaman beberapa ratus tahun. Kondisi ini mulai memunculkan nada pesimis di dalam benak pejuang muslimin. Namun demikian, atas izin Allah seorang pemuda mualaf mampu membakar semangat mereka lagi dengan mengingatkan bahwa tujuan mereka berangkat ke sana adalah untuk berjihad sehingga tidak ada pilihan untuk kembali. Dengan demikian serangan pun dilanjutkan.

Sang sultan pun menyadari, bahwa mereka tidak akan bisa menang dengan cara biasa. Sudah puluhan pemimpin kaum muslimin yang telah mencoba merebut Konstantinopel namun mereka tidak mampu. Harus ada sebuah cara yang tidak biasa sebagaimana halnya Rasulullah yang selalu punya pemikiran tidak biasa dalam perang – perang beliau. Sejatinya penduduk kota konstantinopel merasa cukup kewalahan memperbaiki tembok mereka yang hancur dihantam meriam. Namun hal ini mereka antisipasi dengan memfokuskan pasukan untuk memperbaiki tembok yang rusak dan sedikit mengurangi konsentrasi pada sisi konstantinopel yang berbatasan dengan teluk tanduk emas. Mereka yakin bahwa sisi kota konstantinopel yang berbatasan dengan teluk tanduk emas tersebut akan tetap aman karena adanya rantai raksasa yang mampu menenggelamkan semua kapal yang berusaha untuk menerobos. Hal ini tidak luput dari perhatian sang sultan. Beliau berpikir apabila pasukan muslimin bisa meloloskan kapal mereka masuk ke teluk tanduk emas, maka itu akan memberikan keuntungan yang sangat besar. Namun permasalahannya adalah bagaimana caranya?

Teluk tanduk emas pada dasarnya diapit oleh dua daratan yaitu konstantinopel di satu sisi dan bukit Galata di sisi yang lainnya. Sisi yang lain dari semenanjung bukit Galata ini adalah laut marmara.  Hal ini yang menjadi perhatian dari Sultan Mehmed. Terlintas di kepala beliau sebuah ide yang tidak pernah terpikir kaum muslimin sebelum beliau. Bahwa jika kapal kapal pasukan muslimin ingin masuk ke dalam area teluk tanduk emas, maka mereka bisa memanfaatkan semenanjung bukit galata untuk menyeberangkan kapal mereka dari laut marmara. Hal ini tentu saja tidak pernah terpikir bahkan oleh penduduk konstantinopel sendiri, karena bukit galata bukanlah daratan biasa tapi deretan perbukitan yang jangankan untuk menyeberangkan kapal, bahkan untuk diseberangi oleh manusia saja sulit. Tapi sultan Mehmed bergeming, jika ini tidak pernah terpikir oleh penduduk konstantinopel sendiri maka ini adalah keuntungan yang sangat besar untuk umat muslimin, karena dengan tidak diantisipasinya kemungkinan tersebut, tentu pertahanan konstantinopel di sisi tersebut akan lemah dan menjadi titik kritis untuk diserang. Maka dimulailah usaha kaum muslimin untuk menyeberangkan kapal melalui bukit Galata. Dalam semalam, sebuah ide “gila” dari sang sultan berubah menjadi sebuah mukjizat perang. 70 kapal kaum muslimin berpindah dari laut marmara ke dalam teluk tanduk emas tepat di halaman belakang konstantinopel. Tempat yang tadinya merupakan sisi paling aman dari konstantinopel berubah menjadi sisi yang paling berbahaya. Saat masuk waktu subuh, penduduk konstantinopel terkejut dengan gema takbir yang berasal dari ratusan pasukan muslimin tepat di halaman belakang rumah mereka. Sebuah pemandangan yang tidak pernah mereka sangka selama ribuan tahun. Hari itu, muncul di benak penduduk konstantinopel bahwa kota mereka pasti takluk di bawah kekuasaan umat muslimin.

Kondisi kritis dari sisi konstantinopel yang berbatasan dengan teluk tanduk emas mau tidak mau memaksa panglima konstantinopel untuk memecah konsentrasi pasukan mereka. Yang tadinya sebagian besar pasukan difokuskan untuk memperbaiki tembok, maka sebagian kini dialihkan untuk mempertahankan sisi kota yang berbatasan dengen teluk tanduk emas. Akibat hal ini, maka angin mulai berhembus ke arah kaum muslimin. Meriam terus ditembakan, genderang perang terus ditabuh, gemerincing pedang senantiasa terdengar hingga suatu malam Sultan Mehmed memerintahkan semua pasukan untuk berhenti berperang. Semua pasukan diwajibkan untuk berpuasa keesokan harinya dan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Karena beliau yakin, kemenangan bukan berada di tangan pasukan, tapi berada di tangan Allah. Maka kaum muslimin pada hari itu semuanya berpuasa. Mereka memperbanyak membaca Al Quran, berzikir, berdoa meminta petunjuk dan semua jenis ibadah untuk mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT. Pada malam harinya di sepertiga malam terakhir, seluruh umat muslimin dibangunkan untuk shalat malam. Selesai shalat malam semua pasukan dikumpulkan dan sang sultan pun berkhutbah. Bahwasanya jika kemenangan atas konstantinopel ini menjadi milik kaum muslimin, maka kaum muslimin yang ikut berperang akan mendapatkan ganjarannya berupa pujian dari Rasulullah. Dan semua pasukan sejak hari itu tidak boleh bermaksiat, karena mereka sudah dianggap sebagai pasukan terbaik oleh Rasulullah. Dan yang paling penting adalah, satu lagi janji Rasulullah SAW akan terbukti dan semakin menegaskan, bahwa Rasulullah tidak pernah berbohong!

Maka khutbah tersebut membakar semangat kaum muslimin. Sorak takbir berkumandang. Semua pasukan muslimin ibarat singa yang lapar akan fadhilah jihad di jalan Allah. Maka pasukan pembuka pun dikirim oleh sang sultan. Hingga menjelang waktu subuh tidak ada tanda tanda kemenangan. Maka pada akhirnya pasukan inti Yeniseri pun dikeluarkan oleh sang sultan. Maka sebelum matahari terbit, gerbang konstantinopel pun runtuh, dan pasukan muslimin menerobos masuk. Semua penduduk lari ketakutan. Mereka takut bahwa pasukan muslimin akan membalas dendam atas apa yg terjadi pada saudara mereka di Cordoba yang dibunuh secara kejam ketika peristiwa Reconquista. Mereka pun masuk ke dalam Hagia Sophia dan bersembunyi di dalamnya. Saat sultan masuk ke dalam Hagia Sophia, beliau melihat sorot mata yang begitu ketakutan dari penduduk konstantinopel yang bersembunyi disana. Maka dengan lantang sang sultan berkata, keluarlah. Sejak hari ini penduduk konstantinopel dibebaskan untuk memeluk agama mereka tanpa perlu takut akan diintimidasi oleh umat muslimin. Semua yang bersembunyi silahkan keluar dan mereka tidak perlu takut akan dibunuh. Semua yang ingin keluar dari konstantinopel dipersilahkan dan akan dikawal. Mereka yang ingin tetap tinggal pun dipersilahkan dan mereka akan dilindungi. Namun satu permintaan sang sultan, mulai hari itu Hagia Sophia diubah menjadi masjid. Maka dimulailah pengalih fungsian Hagia Sophia menjadi mesjid. Pertunjukan keimanan dari sang Sultan dimana tempat terindah dari Konstantinopel yang begitu memabukan siapa saja yang pernah berkunjung ke sana, didedikasikan kepada tuhannya bukan untuk pribadi beliau. Maka setelah semua patung patung diihilangkan dan mimbar ditegakan, maka azan Ashar pada hari itu pun berkumandang. Shalat berjamaah pertama di Hagia Sophia pun berjalan dengan khusuknya. Dan hari itu janji Rasulullah dibuktikan.”

Setelah mendengar penjelasan abang dengan amat takzim, sembari menelusuri pelataran Haiga Sophia, aku semakin takjub dan semakin yakin bahwa itu semua gak cuma legenda atau celoteh asal dari zaman dulu yang diturunkan. Ini semua nyata dan jelas semua bukti ada di depan mataku. MasyaAllah, Alhamdulillah aku diberikan kesempatan untuk melihat ini semua. Abang pun bilang kalau punya cita – cita yang belum sempat tercapai, bisa diturunkan ke anak atau cucu kita nanti. Sehingga kita bisa memfokuskan mau jadi apa anak nantinya. Jadi terbayang lagu favoritku, Que Sera Sera. When I was just a little girl, I asked my mother, What will I be? Will I be pretty, will I be rich? Here’s what she said to me “Que Sera, Sera Whatever will be, will be. The future’s not ours to see. Que Sera, Sera. What will be, will be”. Gak kebayang kalo sultah mehmed nanya dia gede bakal jadi apa terus dijawab sama ayahnya “masa depan bukan urusan kita. Yang terjadi terjadilah”. Oh crap! Sultan gak akan pernah jadi orang besar kalo sang bapak ngasih wejangan kayak gitu.

Istanbul
Istanbul
Haiga Sophia
Haiga Sophia

Setelah beli tiket di mesin penjual tiket untuk masuk ke Haiga Sophia, kami menuju tempat yang meminjamkan audio dan peta Haiga Sophia. Dari situ kami bisa mendapatkan penjelasan tiap detail dari semua yang ada disini. Beneran deh Haiga Sophia emang magical dan misterius banget. Gak bosen – bosennya ngomong seperti itu. Karena emang bener adanya. Haiga Sophia pun juga luas kalau dibanding dengan Mezquita Catedral yang ada di Cordoba. Disini kami bisa melihat paduan antara sentuhan Islam zaman dinasi ottoman dan desain interior dari gereja zaman romawi. Masih banyak lukisan – lukisan yang terlukis di dindingnya. Pengunjung yang berkunjung disini gak hanya dari kalangan muslim, kalangan nasrani orthodox, jews, dan beberapa lainnya kami lihat berseliweran menikmati ini semua. Memang konstantinopel menyuguhkan kecantikan akan sejarah masa lalunya dan kebebasan kehidupan malamnya. Ironi.

Morning from Haiga Sophia
Morning from Haiga Sophia

20141226_110209

IMG_0792

Lukisan yang Meniru Lukisan di Bawah
Lukisan Tiruan dari Lukisan di Bawah
Lukisan yang Asli Terukir di Dinding Haiga Sophia
Lukisan yang Asli Terukir di Dinding Haiga Sophia

wpid-20141226_111617.jpg

Lorong Menuju Upper Section Haiga Sophia

Lorong Menuju Upper Section Haiga Sophia

20141226_101500

Souvenir Haiga Sophia
Souvenir Haiga Sophia
Pernak - Pernik Souvenir
Pernak – Pernik Souvenir

IMG_0813

Original "Angel" Painting @ Haiga Sophia
Original “Angel” Painting @ Haiga Sophia
Mimbar Haiga Sophia
Mimbar Haiga Sophia
View Taken from Haiga Sophia
View Taken from Haiga Sophia

IMG_0811

Setelah puas mengelilingi Haiga Sophia (emang bener – bener puas banget lihat dalem luarnya), kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Karena abang harus menunaikan sholat jumat, aku disuruh abang untuk tunggu di hotel aja daripada nunggu di depan blue mosque, masjid yang akan abang datangi untuk solat jumat.

Di hotel aku gak ngapa – ngapin cuma nunggu abang balik solat. Aku bersoley – soley ria memanjakan tulang – tulangku di atas ranjang. Rasanya pegal semua badan tenteng – tenteng backpack di pundak. Aku pun sempat tertidur. Pulas.

“Just a little bit lonely. Just a little bit sad. I was feeling so empty. Until you came back

Until you came back. Until you came back dari jumataaan

Oh, Soley, Soley. Soley, Soley. Soley, Soley”

“Ceklek!” suara pintu yang berusaha dibuka tapi gak bisa karena kuncinya gak abang bawa. Yes Alhamdulillah abang pulang walau bakul nasi gak goyang – goyang karena ini kamar hotel bukan dapur. Selanjutnya abang mengajakku ke Blue Mosque.

“bang gimana jumatannya?”

“dek, bagus banget Blue Mosque nya. Besok ya kita subuhan disana. Kamu mesti masuk. Bener – bener nenangin. Sekarang kita main di pelatarannya aja ya.”

Iya yang, masjid emang nenangin banget dimanapun itu.

Saat mau keluar hotel, ternyata Istanbul diguyur hujan. Aroma petrichor langsung menyeruak keluar saat hujan menyentuh tanah. Basah. “Aku ingin keluar bang. Bermain hujan walau masih menggunakan payung.” “Inget dek, masih ada perjalanan yang panjang yang butuh tenaga, adek jangan sakit.”

I Love Turkey in The Rain
I Love Turkey in The Rain

Akhirnya abang mengizinkan kami keluar saat hujan berganti menjadi gerimis. Ah, nambahin cantiknya Istanbul aja sih kamu hujan. Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. Pemandangannya sayang banget kalo dilewatin gini aja. Aku pun minta difoto sama abang ala – ala model kayak pempek. Di Blue Mosque, aku melihat larangan untuk memasuki kawasan masjid tanpa busana tertutup dan tudung kepala. Jadi untuk wanita yang tidak berhijab, mereka sudah menyiapkan pashmina yang diselempangkan di kepalanya. Ada wanita Jepang yang berusaha pake hijab kayak wanita Turki. Cantik banget mba. Ada cewek Eropa yang memang sih pakaiannya tertutup. Tapi ya itu, bukan celana panjang tapi stocking. Terus pake pashmina dibelit – belit di kepala. Hihihi, ragam orang ragam budaya. Bikin betah berlama – lama disini.

Don't be Blue, Blue!
Hello Blue Mosque!
We're Not Blue @ Blue Mosque
We’re Not Blue @ Blue Mosque
Blue Mosque
Blue Mosque
Senja @ Blue Mosque
Senja @ Blue Mosque

Disaat kami sedang mengatur posisi tripod untuk mengambil foto, tiba – tiba ada wanita arab menghampiriku. Ternyata minta buat difotoin. Setelah ngobrol bentar ternyata mba nya dan suami dari aljazair.

“and where do you come from?” suami si mba aljazair nanya ke aku dan abang.

“we’re Indonesian.” Jawabku dengan excited.

“umh, what is it?”

“Malaysia. Near Malaysia” sang istri membisikan pelan suami yang kebingungan apa itu Indonesia.

Makasih loh mba penjelasannya.

Setelah blue mosque, kami pergi ke Topkapi Museum. Ada janggut nabi, pedang nabi, pedang Ali, pedang Umar, pedang Usman, tongkat nabi Musa, jubbah Fatimah, perhiasan dan pernak – pernik kerajaan dinasti ottoman, bener – bener MasyaAllah banget. Serasa deket banget sama Nabi serta sahabat karena bisa menyaksikan bukti – buktinya. Air mata gak kerasa ngalir aja pas lihat ini semua. Sayang banget gak boleh ambil foto.

Topkapi's Collection
Topkapi’s Collection
Pedang Sultan
Pedang Sultan

IMG_0785

 

Malemnya kami memutuskan makan di restoran yang kami anggap fancy di malam sebelumnya. Ternyata makan disana gak semahal dibanding makan ditempat semalam. Ya ampun, hahaha. Tau gitu dari awal aja makan disini. Candle light dinner nya dapet banget. Ada ibu yang buat roti untuk hummus secara live pula. Tematnya nyaman banget. Ramah pula pelayannya. Disini aku melihat ada pasangan kakek dan nenek yang asik menghisap sisha. Wah bang adek mau atuh bang nyisha. “Gak dek. Gak.”

Best Apple Tea
Best Apple Tea
(katanya) Candle Light Dinner
(katanya) Candle Light Dinner
Kucing (gak) Garong ala Turki
Kucing (gak) Garong ala Turki

Hari Sabtu, kami bangun pagi – pagi untuk menunaikan sholat subuh di Blue Mosque. Ternyata masjid ini dijaga sama polisi, semacam NYPD gitu. Setelah azan, kami nunggu sekitar setengah jam untuk baru menunaikan solat berjamaah. Imamnya nunggu makmumnya ngumpul dulu. Solat bareng sama akhwat dari berbeda Negara. Rata – rata mereka gak pake mukena karena bajunya udah bisa dijadikan untuk solat. Yang pake mukena cuma aku dan wanita Malaysia. Selain mukena, perbedaannya ada dalam gerakan solat. Ini pun biasa dan memang dibenarkan. Perbedaan mazhab aja. Disini kami bertemu dengan pasangan kakek nenek asal Ankara, mereka menyengajakan untuk solat subuh di Blue Mosque. Wow banget semangatnya. Mereka juga cerita kalo pernah lama tinggal di Indonesia sekitar enam tahun lamanya kalau aku gak salah ingat. Sang kakek senang banget ngobrol sama abang tentang Blue Mosque, Turki, Indonesia. Sang nenek meminjamkan aku tasbih saat berzikir. Ada juga wanita Malaysia yang berkenalan yang ternyata suaminya juga sudah berkenalan dengan abang. Bercerita tentang banyak hal. Alhamdulillah, tambah lagi temannya 🙂

Blue Mosque Interior
Blue Mosque Interior
Blue Mosque Interior
Blue Mosque Interior

Setelah solat subuh, kami pulang ke hotel untuk sarapan. Kemudian kami pergi ke Grand Bazaar yang ternyata gak jauh beda dari Tanah Abang. Riwehnya, rusuhnya, tipikal tanah abang banget lah. Disini kami membeli loqum atau Turkish Delight. Makanan ini adalah makanan yang dimakan oleh Prince Edward di Narnia Movie. Sehabis puas mengacak – acak isi Grand Bazar, kami pergi ke Selat Bosphorus. Abang pengen banget makan sandwich ikan yang katanya bisa ditemui di daerah itu. Tapi kami gak menemukannya. Hari pun sudah sore dan kami harus kembali ke hotel untuk mengambil barang dan bersiap – siap ke airport untuk kembali ke Italy! Hello again Italy!

Bosphorus, I'm in Love
Bosphorus, I’m in Love

Catatan Perjalanan Dua Insan Part II

Malaga, Spain 22 Desember 2014

Kira – kira jam 3 dini hari aku terbangun. Biasa deh, kalo mau pergi ke suatu tempat aku bisa jadi sigap gini. Habis wudhu aku ajak abang buat tahajud berjamaah. Setelah itu, kita pun early breakfast. Jam 4 kita sudah keluar apartemen menuju persimpangan jalan (lupa namanya apa ya bang) kemudian menaiki taksi ke Centrale. Akhirnya aku naik taksi juga disini. Rate awal taksi disini sudah mahal 6 euro ya kalo gak salah? Setara 90 ribu saat rate 15ribu. Sampai di Centrale kita lanjut menggunakan bus menuju airport yang berada di terminal dua. Ternyata di dalam bus tsb ada teman lama. Teman semasa muda. Hahaha. Ada bang Taufiq. Tapi baru sadar pas ketemu di airport saat habis berwudhu di toilet. Bang Taufiq ternyata sedang berlibur di Milan dan mau pergi ke Paris. Wah dunia sempit banget bisa reuni kecil – kecil an 3 generasi TM seperti ini di sudut kecil airport. Alhamdulillah.

TM 2008, 2006, 2007
TM 2008, 2006, 2007

Jam 7 pesawat boarding. Di dalam pesawat kurang lebih 2 jam, aku dan abang pulas tertidur. Saat hampir mau sampai, kita melihat Malaga seperti kota dalam mimpi. Banyak ladang disana. Wah, kota nya damai banget. Ada sungai yang membelah kota. Kendaraan sedikit banget. Kira – kira seperti itulah yang kita lihat dari pesawat.

Terbangun di Atas Awan
Terbangun di Atas Awan
Beautiful Malaga
Beautiful Malaga

Alhamdulillah, setelah tiba di airport Malaga, kita mengisi perut dulu. Lapeeerrr. Abis itu kita naik bus menuju tengah kota. Destinasi kita adalah kastil AlCazaba. Sembari nunggu bus, lagi – lagi kita foto. Kemudian sesampainya di tengah kota, kita ke tourist information dan bertanya bagaimana untuk menuju ke AlCazaba. Ternyata bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Oke, kita berjalan kaki. Melewati taman, kita pun foto – foto. Di pinggir taman banyak kios yang menjual permen seperti yuppy dan marsmallow, dan banyak yang berjualan topeng.

Brunch After Early Breakfast (Sahur)
Brunch After Early Breakfast (Sahur)
Ready for Our Adventure!
Ready for Our Adventure!
Malaga Airport
Malaga Airport
Malaga City
Malaga City

IMG_0216

Sampai di AlCazaba, perasaan kagum langsung menyeruak. WOW BANGET!!! Lokasi nya bener – bener MasyaAllah. Kastilnya berada gak jauh dari pinggir laut. Jadi kalo liat dari kastil, mata kita dimanjakan oleh pemandangan kota Malaga dan laut. MasyaAllah. Di kastil tersebut masih jelas terukir tulisan La ilaha illa Allah yang berarti Tiada Tuhan Selain Allah.

Amazed by Beautiful of AlCazaba
Amazed by Beautiful of AlCazaba
La Ilaha Illa Allah
La Ilaha Illa Allah

Suasana di AlCazaba bener – bener bikin betah banget. Selain suhunya gak terlalu dingin gak terlalu windy (serasa di Bandung cuacanya #nyolot), disini ada pengamen yang mainin alat musik apa namanya gak tau. Jadi serasa ada di telenovela. Hahaa. Abang pun nawarin Gelato. Awalnya aku nolak karena secara dingin kok makan es krim. Eh tapi karena tergiur sama pilihan rasanya, oke beli deh dengan rasa choc mint mix mango.

ChocMint Mix Mango Gelato
ChocMint Mix Mango Gelato

Setelah puas main – main sampai jam 3 sore, kita balik lagi ke terminal. Menelusuri taman dan kios penjajak permen, kemudian naik bus sampai terminal. Dari sana kita naik bus ke Granada. Kota lainnya di Spanyol. Di dalam bus kita diberi sepotong roti dan air mineral, Alhamdulillah.

Oia, di Andalusia ini, banyak banget bertebaran pohon jeruk. Baru pertama kali liat pohon jeruk jadi lah foto di depan pohon. Awalnya kita bingung kenapa orang – orang Spanyol baik – baik ya jeruknya gak ada yang diambilin padahal jeruknya cantik banget. Rasanya seger banget ngeliatnya. Ternyata, kita baru tau alasannya saat kita di Granada.

Orange Trees
Orange Trees

Sampai di Granada jam 8 atau jam 9 ya lupa. Kita turun di cathedral apaa gitu. Dari situ kita jalan kira – kira 15 menit dan sampailah di hotel. Terus kita makan malem pad thai, disitu restoran halal. Seneng banget dingin – dingin makan mie. Kita makan pad thai di hotel. Daaan, tertidur pulas sampai pagi..

Granada, Spain 23 Desember 2014

Pagi – pagi setelah solat subuh, kita bersiap – siap untuk cari sarapan. Secara subuh disini jam 6 dan kita udah laper jam segitu. Akhirnya kita cari makan keluar hotel. Sekalian liat – liat kota Granada. Wah Granada gak kalah indah kalau dibandingkan dengan Malaga. Orang – orangnya rajin banget lari pagi padahal dingin begini. Typical European city, patung ada dimana – mana. Foto – foto lagi deh di depan patung.

Pagi di Granada
Pagi di Granada
Pagi Ceria di Granada
Pagi Ceria di Granada

Setelah puas foto – foto, kita pilih tempat makan yang sudah buka di pagi itu. Daan, di tempat inilah aku menemukan cokelat panas yang gak akan terlupa rasanya. Itu. Enak. Bingit. Dibanding sama hot chocolate di cordoba dan paris, tetep gak ada yang bisa ngalahin. So yummie! Balik ke hotel jam 8.30. kita check out sambil nunggu bus untuk menuju AlHambra. Disini kita pake agen tour buat lebih tau sejarahnya AlHambra. Ya walaupun sejarahnya dari sudut pandang mereka.

best hot chocolate ever. so yummie
best hot chocolate ever. so yummie
Landed Safely at AlHambra
Landed Safely at AlHambra

Di AlHambra, ada taman surga. Memang dibuat oleh raja seperti surga yang dilukiskan di dalam AlQuran. Sayang, karena winter bunga – bunganya gak ada. Tapi ada beberapa spot yang bunganya masih mengeluarkan harumnya. Oia, ternyata alasan kenapa jeruk – jeruk yang ada di andalus ini gak ada yang makan adalah karena jeruk disini pahit. Bisa dilihat dari bentuk daunnya yang meruncing tidak membulat. Wah, kirain orang spanyolnya yang bageur.

Hola from AlHambra
Hola from AlHambra

Bangunan di AlHambra MasyaAllah banget. Setiap detail bener – bener dibuat pake ilmu engineering, arsitektur, dan matematika yang sangat terintegrasi. Tiap – tiap ruangan ditempeli oleh ornament semacam keramik yang dilukis. Dan hal tersebut simetris dilihat dari arah manapun. Begitu juga taman air mancurnya. Air mancurnya bisa simetris saat air tsb dinyalakan dan kaki akan tergenang oleh alirannya. Dan kita bisa melihat pantulan bangunannya dengan sempurna di air tersebut. MasyaAllah…. Sama seperti AlCazaba, bangunan ini pun terisi oleh tulisan La ilaha illa Allah.

IMG_0465

IMG_0452

IMG_0443

IMG_0441

Selain engineering bangunannya, disini juga oke banget tentang pengairannya. Sudah ada saluran air yang bisa ngalir dari atas sampai bawah dan airnya pun masih tetap jernih hingga aliran terbawah. Air yang berasal dari gunung dialirkan ke kastil ini. Dari kastil, ada saluran yang mengalirkannya sampai ke bawah hanya dengan memanfaatkan inklinasi pada salurannya. Tanpa electric power.

20141223_132554

IMG_0479

IMG_0418

IMG_0415

Kalau dari puncak AlHambra, mata kita dimanjakan oleh pemandangan kota yang sangat tertata rapih. Disekelilingnya masih ada tembok kastil yang memang masih berdiri kokoh. WOW. Berasa putri raja saat ada di atas sini. Dan sangat terasa kejayaan islam masa lampau saat kita berada disini. Disaat muslim menguasai 2/3 dunia. MasyaAllah.

Setelah puas tour selama 3 jam berkeliling 6 Km di istana AlHambra, kita pulang ke hotel mengambil backpack yang dititpkan disana dan mencari makan ditengah kota. Alhamdulillah kita ketemu makanan halal lagi yaitu ayam shawarma. Kita makan disini udah kayak gak makan 3 hari. Mungkin karena makanannya cocok banget sm lidah kita. Apalagi disini ada wifi. Jadi kita bisa ngabarin duo mama deh.

View of Granada City from AlHambra
View of Granada City from AlHambra

20141223_125141

IMG_0525

20141223_131529

Hari sudah mulai sore, kita memutuskan untuk pergi ke mezquitta atau masjid yang baru dibangun di Granada. Kita tau infonya saat ada yang bertanya ttg masjid di Granada. Gak sengaja curi dengar. Alhamdulillah kita bisa ke masjid nya. Ah senang. Masjidnya bagus banget. Di bangun 10 tahun yang lalu saat pemerintah UAE lagi main ke Granada. Terus disini kita juga ketemu sm mahasiswa Indonesia, Malaysia, keluarga dari Singapore. Alhamdulillah jadi tambah saudara :’). Suasana masjid memang selalu nyaman. Betah banget bisa solat disini. Kita menjamak zuhur dan ashar disini. Dan, foto – foto hahaha.

IMG_0528

IMG_0527

IMG_0539

20141223_173149

Setelah itu kita berangkat ke terminal dan menunggu bus yang menuju Granada. Di bus, aku seperti bisa tidur. Rasanya capek banget hari itu. Apalagi meminggul tas walaupun gak seberat abang. Rasanya badan pegal banget. Kasihan abang yang tasnya berat banget. Di perjalanan abang selalu bilang “ dek liat deh liat. Bagus banget”. Aku cuma melenguh malas. Maaf ya abang. Abang selalu bilang dalam perjalanan “ dek lihat. Ntar nyesel.” Tapi aku tidur gak bergeming. Hahaha.

Sampailah di Cordoba. Dan, Cordoba pun gak kalah cantik sama Malaga dan Granada. Lagi ada pasar malem disekitar terminal. Jadi rame banget padahal udah malem. Nah disini kita ketemu teman baru. Seorang wanita bernama Bene asal perancis. Dia sama – sama backpackeran seperti kita. Hanya dia bawa koper dan sendiri. Tujuan nya pun sama yaitu mezquita catedral. Masjid yang dijadikan gereja pada tahun 800an Masehi. Di perjalanan kita menuju hotel dia bercerita bahwa dia sering ke Indonesia namun dia benci Bali. Suami Bene seorang muslim maroko. Dia bilang aku dan suami harus ke Maroko karena disana pun juga tak kalah cantik sejarahnya. Di bus, tiba – tiba ada pria asal Belanda yang bilang selamat berjumpa lagi dalam bahasa Indonesia. Ternyata dia juga backpacker yang belajar bahasa Indonesia di belanda. Wah, yang tadinya capek bukan main jadi seneng banget karena ketemu banyak teman baru. Ternyata hotel kami berdekatan karena kami memilih hotel yang dekat dengan mezquita. Akhirnya sampai di hotel. Hotelnya sangat nyaman. Dan benar – benar di depan mezquita. Bel dari cathedral dengan mudah terdengar ke kamar. Kita beristirahat untuk menyiapkan tenaga mengelilingi Cordoba besok.

Cordoba, Spain 24 Desember 2014

Kita terbangun pagi, setelah solat subuh, kita memutuskan untuk bergegas melihat mezquita cathedral. Walupun badan capek banget banget tapi semangat buat lihat situs bersejarah sangat meluap – luap sehingga capek di badan kita acuhkan. Kita sarapan kurma dulu untuk mengganjal perut yang mulai lapar. Aku dan suami memang berencana sarapan setelah selesai melihat mezquita.

Setelah sampai, kita ternyata diharuskan membeli tiket padahal belum jam 9, yang katanya jika masuk sebelum jam 9 kita bisa masuk secara gratis. Setelah masuk ke dalamnya, kita takjub dengan besarnya ruangan mezquita cathedral tersebut. Pikiran langsung membayangkan saat kejadian pembantaian umat islam yang berusaha menghindari musuh dengan cara bersembunyi di dalam mezquita. Dengan ruangan sebesar itu, terbayang berapa banyak para mujahid yang syahid waktu itu. MasyaAllah.

Inside of Mezquita Catedral
Inside of Mezquita Catedral

Di dalam mezquita terdapat banyak patung – patung dan lukisan yang sarat akan sejarah masa lampau. Dengan penerangan yang remang, dan suhu yang memang dingin menusuk tulang, suasana di dalamnya benar – benar memukau. Aku dan abang berkeliling dan mengambil beberapa foto. Tapi, sejam saja bagi kami cukup untuk melihat – lihat dalam mezquita cathedral. Kami langsung keluar dan foto – foto diluar. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari sarapan.

Together with Maryam
Together with Maryam

IMG_0547

Beberapa toko masih tutup mungkin karena waktu masih pagi disini. Padahal sudah jam 10. Namun, aku dan suami benar – benar menikmati jalan pagi kita saat itu. Melihat phon – pohon jeruk, sama seperti di Malaga dan Granada. Melihat sungai. Melihat orang jogging. Udara segar. Banyak burung berkicau. Dan kamipun bergandengan – tangan sambil tersenyum kecil. Ah, pagi – pagi sudah pacaran.

Pacaran di Depan Pohon Jeruk
Pacaran di Depan Pohon Jeruk
Roti Khas Cordoba dan Hot Chocolate
Roti Khas Cordoba dan Hot Chocolate
River Side
River Side
asa di payun Salman ITB
asa di payun Salman ITB

Siang harinya kita menaiki bus hop on hop off untuk mengelilingi Cordoba. Sebelumnya, kita bertemu seorang Palestine yang menawarkan jasa tour untuk berkeliling Cordoba untuk menceritakan sejarah tiap sudut kota. Namun harga yang ditawarkan menurutku mahal banget. 200 euro coba. Hmmm, next time ya pak. Walaupun aku harus sedikit meyakinkan abang yang pengen banget tau sejarahnya Cordoba setiap incinya. Next time ya bang in sya Allah.

"padahal

Kami berkeliling sampe lupa arah. Kalo udah bosan di bus, aku dan suami berjalan. Kalo sudah capek, naik bus lagi. Melihat indahnya kota ini di saat siang hari. Banyak café di pinggir jalan yang disesaki oleh pengunjung saat makan siang. Oh, saat di jembatan yang lupa namanya, aku bertemu dengan muslimah yang sedang mendorong bayinya di sroller. Dia mengucapkan “ Assalamualaikum” kepadaku yang langsung aku jawab dengan sontak. Rasanya, di daerah minoritas seperti ini bertemu dengan muslimah lainnya benar – benar menenangkan. Ah iya, dikarenakan aku berjilbab, abang dari awal sudah mewanti – wanti aku untuk tidak berbuat yang aneh – aneh semisal tidak taat dengan traffic light, membuang sampah sembarangan, attitude saat menggunakan escalator, dan lain sebagainya. Abang bilang kita merupakan cerminan dari islam. Jadi jangan sampai bertindak aneh. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Di Milan, ada seorang pegawai Carpisa, salah satu store di Duomo, yang senyum dan memberikan komentar positif terhadap cara berpakaianku. Alhamdulillah.

Love is everywhere when I'm with you, bang
Love is everywhere when I’m with you, bang
My Prince Charming
My Prince Charming
Matahari di Musim Dingin
Senyum Matahari di Musim Dingin
You Are My Sunshine
You Are My Sunshine
Taken from Hop On Hop Off
Taken from Hop On Hop Off
Enjoying Cordoba form HOHO Bus
Enjoying Cordoba form HOHO Bus

Saat hari sudah sore, baru kita mencari makan siang. Disini memang agak kesulitan mencari makanan yang kira – kira halal. Akhirnya kita makan di dominos pizza. Setelah makan, kita jalan melalui taman menuju terminal dan bersiap untuk ke Barcelona. Bismillah 🙂

Siang di Cordoba
Siang di Cordoba
Free Flow of Soda in Dominos Pizza
Free Flow of Soda in Dominos Pizza
Di Depan Masjid di Taman
Di Depan Masjid di Taman

Barcelona, Spain 25 Desember 2014

Perjalanan dari Cordoba menuju Barcelona memakan waktu selama sepuluh jam perjalanan. Untungnya perjalanan bersama suami. Bisa dibayangkan kalo aku sendirian yang di bus sepuluh jam. Pasti udah mati gaya banget. Nah disini ada cerita yang agak ngeselin waktu kita ada di terminal Cordoba. Kita sudah cek in ke mba yang megang absen nama penumpang bus. Saat nama kita dicek, kita gak langsung naik bus tapi naro bagasi dulu karena awalnya kita mau pastiin apakah bus ini benar yang akan membawa kita ke Barcelona atau gak. Namun, saat kita mau masuk bus, kita dihadang. Dengan pengetahuan bahasa spanyol sebatas hola saja, aku gak ngerti sama sekali apa yang si mba nya omongin. Suami pun berusaha ngomong pake bahasa itali yang dianggap punya kemiripan dengan bahasa spanyol. Tapi mba nya makin gak mudeng. Apalagi si mba gak bisa sama sekali bahasa inggirs. Hadeuh. Jadilah kita nunggu bengong gitu sampe semua penumpang masuk dan si mbaknya ngecek ke dalam bus kalo emang masih ada 2 seat kosong untuk kita. Ya iyalah mba ada. Tadi mba kan udah ngecek nama kita, masak langsung lupa. Hadeuhhh.

Gak banyak yang bisa diceritain dari Barcelona, karena emang kami gak terlalu lama disini. Hanya untuk keperluan transit saja untuk ke bandara menuju turki. Di dalam bus aku senderan sama abang sepanjang perjalanan. Pulas tertidur, abang pun ikut menyenderkan kepalanya di atas kepalaku. Posisi yang bikin kepala tengklek.

Sampai di Barcelona kira – kira jam 7. Setelah bersih – bersih menggunakan toilet terminal Barcelona, kami keluar mencari makan. Dan memang, belum ada yang buka sepagi buta itu. Akhirnya kita berjalan menelusuri kota. Kami menemukan minimart 24 hr dan membeli kopi dingin dan roti. Setelah mengambil beberapa foto, aku dan suami pun menuju airport karena pesawat akan boarding jam 11an.

Barcelona
Barcelona
Morning Barcelona!
Morning Barcelona!

Catatan Perjalanan Dua Insan Part I

Alhamdulillah, semenjak abang bertugas di Milan, semua komunikasi bisa dengan mudah kami lakukan. Dari awal ditugaskan di sana, abang sudah berniat untuk mengajak aku untuk mengunjunginya. Tentu saja aku sangat bersemangat untuk menyusun kepergian kesana. Awalnya kita berencana untuk mengunjungi tempat – tempat yang umum yang biasa turis kunjungi. Namun dalam beberapa hari kemudian, abang menghubungi aku via line dan bertanya kepada aku.

Abang   : “ dek, dulu inget gak kita bercita – cita untuk mengunjungi masjid – masjid?”

Akhirnya abang menjelaskan tujuannya yaitu merencanakan eurotrip sambil menelusuri jejak Islam yang ada di Eropa. Dan gayung pun bersambut. Aku dengan senang hati menerima tawaran dari abang. Namun aku juga memasukkan beberapa daftar kota turis yang memang aku penasaran untuk mengunjunginya. Diputuskan lah bulan desember untuk melakukan trip ini. Aku ambil cuti selama sepuluh hari, sedangkan abang cukup dengan empat hari cuti saja karena bulan desember di Milan banyak ditebari oleh tanggal merah berhubungan dengan perayaan natal dan tahun baru.

Dimulailah persiapan untuk tripnya semenjak bulan Oktober. Abang sangat rajin dan apik dalam menyusun semua hal – hal yang terkait dalam perjalan ini. Dari tiket pesawat, kereta, bus, peta tiap – tiap kota, peta jalur public transportation, booking hotel,  hingga membeli barang – barang perintilan seperti liquid bag set. Aku pun mulai mengurus visa, sponsor letter dari kantor abang, dan dokumen – dokumen pendukung lainnya seperti rekening koran dan asuransi perjalanan.

Tanggal 20 Desember 2014 aku berangkat dari Soeta menuju Dubai. Dimulailah petualangannya. Aku sepesawat dengan banyak sekali jamaah umroh yang berbondong – bondong dengan sanak family nya. Aku duduk di samping lorong dan bersampingan dengan cowok bule yang rajin pesan red wine sepanjang perjalanan.

Transit di Dubai selama 3 jam aku gunakan untuk solat zuhur dan menjamak ashar di mushola nya yang nyaman. Kemudian menggunakan fasilitas 30 minutes free wifi di airport untuk memberi kabar ke abang dan mama. Sisanya aku tidur di kursi panjang.

Di pesawat menuju Malpensa Aeroporto, aku duduk di tengah antara dua wanita italia. Seorang ibu paruh baya yang selalu senyum saat mengoper makanan dan seorang wanita muda khas Italy yang terus tertidur menempel ke jendela. Di pesawat ini aku mulai deg – degan. Wah sebentar lagi nih sampe Milan. Ketemu sama suami. Sudah lumayan lama gak ketemu. Terakhir bulan Agustus saat libur lebaran abang pulang. Hampir 5 bulan sudah. Abang seperti apa ya keadaannya. Apa bertambah tinggi ya? Gemuk sudah pasti karena abang selalu kirim foto setiap hari untuk memastikan abang baik – baik saja disana. Hmmm, abang oh abang. Adek jadi kikuk gini.

Milan, Italy 20 – 21 desember 2014

Alhamdulillah, sampailah aku di Milan. Setelah menunggu bagasi dan melalui passport control, aku menuju pintu keluar, USCITA. Dan, bertemulah aku dengan abang. Wah, rasanya awkward moment ketemu suami lagi setelah lama gak bareng. Apalagi abang membawa satu bouquet bunga mawar merah muda, favoritku. Terima kasih ya abang suami. Setiba di Milan, aku kayak orang dari kampung. Norak, lebay, dan geje. Liat tulisan taxi aja rasanya mau foto bareng sama tiangnya.

Senyum Bahagia Akhirnya Berjumpa Kakanda :)
Senyum Bahagia Akhirnya Berjumpa Kakanda 🙂

Dari airport kita menuju apartement abang menggunakan kereta kemudian ganti menaiki metro. Dalam beberapa hari kedepan aku terus – terus nanya “bang apa sih bedanya kereta, metro, dan trem?” kemudian setelah abang jelasin, aku lupa, kemudian bertanya lagi, dan kembali lupa. Ngeselin!

20141220_215941

Foto di kereta dari Malpensa menuju Centrale
Foto di Kereta dari Malpensa Menuju Centrale
Foto saat di subway
Fermata

Keluar dari metro, kemudian kita berjalan kurang lebih 7 menit untuk mencapai apartemen abang. Nah disana aku langsung bahagia banget melihat kota Milan di saat malam. Aku bilang ke abang berkali – kali “wah bang, adek di eropa. Wah bang adek udah kayak Angelina jolie gak bang? Wah bang… dst”. Noraknya pun gak berhenti sampai disitu. Saat masuk ke apartemen abang, aku pegangan ke heater (yang awalnya aku kira pajangan) saat melepas sepatu boots. Kemudian, masuk ke dapur nya, noraknya pun berlanjut. “wah bang adek mau punya kitchen set ky gini! Bawa pulang bang kitchen set nya!!!”. Hosh hosh.

Setelah mengeluarkan satu koper yang isinya seperti isi indomaret (sambal, lauk pauk, indomie, bumbu racik, dll) aku bebersih dan abang menyiapkan makan malam. Aku berdandan dan mengenakan dress merah dan high heels. Sedangkan abang menggunakan kemeja yang memang daritadi dipakai untuk menjemput aku. Kemudian abang sudah menyalakan musik dan lilin. Dimulai lah candle light dinner ala ala kita. (backsound: Wonderful Tonight by Eric Clapton)

Beefsteak ala chef Dito
Beefsteak ala Chef Dito

Keesokan harinya,aku diajak berjalan – jalan ke duomo. Alun – alun kota Milan. Seneng banget pas disini karena banyak toko – toko yang berjajar rapih. Dari yang menjual kepala babi hingga tas chanel ada disini. Kita pergi masuk toko untuk membeli survival kit untuk persiapan back packer. Coat, sarung tangan, penutup wajah, tas selempang, tas lipat, sepatu keds, dsb. Daaan, tidak lupa untuk berfoto ria. Banyak banget foto – foto kita disini. Masuk ke toko Zara aja pun foto – foto.  Suhunya waktu itu dingin banget walaupun langit cerah. Kita pun balik ke apartemen abang menjelang ashar.

Kiss Kiss from Milan Italy :*
Kiss Kiss from Milan Italy :*
Kaki Lima Penjajak Makanan
Kaki Lima Penjajak Makanan
L is for The Way You Look at Me
L is for The Way You Look at Me
Ciao Bella ;)
Ciao Bella 😉
asa prewed di Piazza Duomo
Asa Prewed di Piazza Duomo

20141221_153938

Smile :)
Smile 🙂

Malam hari nya aku diajak abang makan malam bersama teman – temannya di Da Willy, restoran yang menjual pizza jumbo entah berdiameter berapa (aku dan abang hanya pesan satu loyang, tapi masih banyak sisa untuk dibawa pulang). Disana sudah menunggu bang rizky, bang edo, dan agha. Disini aku belajar bahasa Italy selain uscita, yaitu frutti di mare. Hehehe. Itu nama topping pizza yang terdiri dari makanan laut seperi udang, cumi, dan kerang. Setelah mengobrol banyak tentang semua hal, kita kembali pulang. Perjalanan pulang juga diiringi dengan angin yang menusuk tulang, dingin banget padahal sudah pakai baju tiga lapis.

Bersama Agha, Bang Rizky, dan Bang Edo
Bersama Agha, Bang Rizky, dan Bang Edo

Happy Birthday, Bestiest!

“Wishing you a beautiful day

Hopes and dreams I’m sending your way

May all be good and all come true

On this very special day, just for you”

 Image

Tika, I miss us so much! Remember all the crazy things we did when we’re on elementary and junior school? We made a trio vocalist group named D.O.T, created OUR email account (do you still remember when Yahoo came to our school and we happily made a ‘sharing account ‘ for free? I forgot what exactly the reason behind that!), we made our diary called ChaKha’s Story (where the hell is it now???), and sooo many more! I realized how much we love each other yet hate each other, hahaha… I still remember when we’re still in Jahilliyah Era, when we’re playing computer game (bomber man and super Mario) in Labkom and all the entire students in our class were looking for us because we missed Religion or Biology class by Pak Firdaus! We’re attractive yet competitive, we’re proactive yet provocative.

You know what Tika, I’ve found our blog! See how stufreak (stupidfreak) we are!

 

ImageImageLook how cupu we are back then! And now, look at you Tika. Your wildest dream had come true. You went to Japan, country where Conan and Doraemon live and play. Our most favorite comic character. aaaand, soon, in November this year you will be graduated as an Architect from famous-favorite campus  (you owe me home sketching for my home!)

Well, i miss you anyway. Again, happy birthday 😉

ImageRasulullah SAW said: The best companion is one whose appearance reminds you of God, and whose speech increases you in knowledge, and whose actions remind you of the hereafter. Thanks Tika for being such the best companion 🙂

Hadiah Terindah

Tidak dikirim tepat pada hari kelahiranku

Tidak berbalut bungkus cantik dan pita yang dipadu

Tidak pula berupa bunga ataupun buku

Namun rasa bahagia, syukur, dan haru melebur jadi satu

Hadiah ini adalah amanah

Hal terindah pemberian Allah

Akan kujaga walau dikala susah

Kasih dan sayang in sya Allah selalu tercurah

Patutlah aku untuk banyak bersyukur

Sungguh, semua ini sebab dari tafakur

Dulu air mata sedih kerap tercucur

Namun kini, senyum yang bertabur

Sadarku ini semua hanya titipan

Jika Allah berkehendak, akan aku ikhlaskan

Memang ini hanya salah satu amalan

Melengkapi separuh agama sebagai imbalan

Alhamdulillah,

Terima kasih Ya Allah,

Telah mempercayaiku untuk menanggung amanah

Berupa amalan sunnah nabawiyah

Dan juga terima kasih kepadamu,

Yang telah yakin untuk memilihku

Benar, hadiah itu adalah dirimu

Arian Dito Pratama, suamiku…

WA0007

nb: Sudah satu bulan berjarak 11 109 km. Percayalah, kedekatan jiwa melampaui batas kedekatan raga.